Media Kampung – China mengembangkan data center bawah laut komersial pertama di lepas pantai Shanghai, yang menampung sekitar 2.000 server di kedalaman 35 meter di bawah permukaan laut. Proyek ini dirancang untuk mengatasi tantangan pendinginan dan konsumsi energi tinggi yang biasa dialami oleh pusat data konvensional, terutama dengan meningkatnya kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) dan layanan 5G.
Lokasi dan Kapasitas Proyek
Data center bawah laut ini berlokasi di kawasan Lingang, sekitar 9,7 kilometer dari garis pantai Shanghai. Dikembangkan oleh HiCloud Technology (Hailanyun) bersama beberapa perusahaan dan lembaga terkait, fasilitas ini memiliki kapasitas total mencapai 24 megawatt dan dibangun secara bertahap. Bagian yang sudah beroperasi melayani kebutuhan komputasi AI, pengolahan data besar, serta layanan 5G.
Keunggulan Pendinginan dengan Air Laut
Server dan GPU menghasilkan panas yang tinggi saat beroperasi, yang biasanya memerlukan sistem pendingin energi intensif di data center konvensional. Dengan memanfaatkan air laut untuk menyerap dan membuang panas, fasilitas ini dapat mengurangi kebutuhan energi untuk pendinginan secara signifikan. Pengembang mengklaim Power Usage Effectiveness (PUE) fasilitas ini di bawah 1,15, menunjukkan efisiensi penggunaan energi yang lebih baik dibandingkan data center di darat. Konsumsi listrik diperkirakan 30 persen lebih rendah, berkat integrasi dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai yang menyediakan energi terbarukan.
Sejarah dan Pengembangan Teknologi
China telah melakukan uji coba data center bawah laut sejak 2020, dimulai di Sungai Mutiara, kemudian berlanjut dengan proyek percontohan di Hainan pada 2022. Proyek Shanghai yang dimulai pada 2025 memiliki nilai investasi lebih dari 220 juta dolar AS dan bertujuan membawa teknologi ini ke skala komersial. Beban kerja utama mencakup komputasi AI, layanan 5G, dan pengolahan data besar.
Pengalaman Internasional dan Tantangan
Konsep data center bawah laut bukan hal baru. Microsoft pernah melakukan eksperimen serupa melalui Project Natick di dekat Kepulauan Orkney, Skotlandia, pada 2018 hingga 2020. Hasilnya menunjukkan keandalan tinggi dengan kerusakan minimal pada server. Namun, Microsoft tidak melanjutkan ke tahap komersial karena tantangan pemeliharaan dan biaya.
Tantangan utama data center bawah laut meliputi pemeliharaan perangkat yang sulit, kebutuhan akses khusus untuk perbaikan, dan risiko lingkungan akibat pelepasan panas ke ekosistem laut. Pengembang harus memastikan dampak lingkungan minimal agar teknologi ini dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Potensi dan Masa Depan Data Center Bawah Laut
Dengan kebutuhan komputasi AI yang terus meningkat dan tuntutan efisiensi energi, data center bawah laut menawarkan solusi inovatif yang menggabungkan pendinginan alami dan energi terbarukan. China berupaya mengembangkan teknologi ini secara bertahap untuk memenuhi permintaan yang semakin besar di sektor teknologi dan komunikasi.
Meski masih menghadapi beberapa kendala teknis dan lingkungan, data center bawah laut berpotensi menjadi alternatif yang efektif untuk mengatasi masalah konsumsi energi dan pengelolaan panas pada pusat data konvensional di masa depan.












Tinggalkan Balasan