Media Kampung – Saham bank-bank pelat merah dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penguatan signifikan setelah pengumuman reshuffle Menteri Keuangan pada pertengahan September 2026. Pada perdagangan Senin, 14 September 2026, saham BBRI mencatat kenaikan tertinggi sebesar 3,98% menjadi Rp3.400, diikuti oleh BBTN naik 3,4%, BBNI 3,2%, BMRI 1,84%, dan BRIS 0,58%. Saham BBCA juga menguat sebesar 2,77% menjadi Rp6.500.

Penguatan ini terjadi di tengah sentimen positif pasar terhadap pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru. Meskipun demikian, pada perdagangan selanjutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi dan turun ke level 6.461,15 pada Selasa, 15 September 2026. Penurunan IHSG ini dipicu oleh faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak dunia di atas US$100 per barel akibat eskalasi geopolitik Timur Tengah, penguatan yield US Treasury, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Federal Reserve.

Baca juga:

Investor domestik juga menunjukkan sikap waspada menunggu arah kebijakan Menteri Keuangan baru terkait pengelolaan fiskal, defisit APBN, dan strategi pengelolaan utang. Aksi jual bersih oleh investor asing sebesar Rp330 miliar turut memberikan tekanan pada pasar modal Indonesia.

Adapun performa keuangan BBCA hingga Agustus 2026 menunjukkan kinerja yang solid, dengan laba bersih sebesar Rp40,17 triliun, naik 2,85% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income) meningkat 1,33% menjadi Rp53,82 triliun, meskipun ada tekanan dari kenaikan beban bunga sebesar 9,4% yang mencapai Rp9,04 triliun. BBCA berhasil mengelola risiko kredit dengan menurunkan provisi kerugian penurunan nilai sebesar 18,55% menjadi Rp2,16 triliun serta meningkatkan pendapatan dari biaya dan administrasi sebesar 7,74% menjadi Rp13,59 triliun.

Baca juga:

Selain itu, BBCA mencatat pertumbuhan kredit yang kuat sebesar 10,52% secara tahunan, menembus Rp1.017,7 triliun, dan total aset naik 8,19% menjadi Rp1.596,96 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat 8,33% dengan dominasi dana murah berupa giro dan tabungan, yang masing-masing tumbuh 14,73% dan 8,2%. Rasio Loan-to-Deposit (LDR) BBCA naik menjadi 80,97%, mencerminkan efisiensi dalam pengelolaan modal.

Secara sektoral, pada perdagangan Selasa, mayoritas sektor saham mengalami tekanan, kecuali sektor consumer siklikal, kesehatan, dan infrastruktur yang masih mencatat kenaikan tipis. Sektor energi, basic material, dan industri mengalami penurunan signifikan. Frekuensi perdagangan mencapai 1,77 juta kali dengan volume saham 26,4 miliar lembar dan nilai transaksi harian sekitar Rp12,7 triliun.

Baca juga:

Di sisi regulasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan akan mengesahkan dua Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) terkait Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) atau Icomex pada 17 September 2026. Peraturan ini mengatur mekanisme perdagangan, manajemen risiko, perlindungan pengguna jasa, dan sanksi bagi pelanggaran. Pengaturan ini menjadi penting dalam rangka memperkuat tata kelola pasar komoditas strategis di Indonesia.

Dengan berbagai dinamika ini, penguatan saham perbankan yang didorong oleh faktor internal dan regulasi positif masih menjadi sorotan utama pasar, meski IHSG menghadapi tekanan dari faktor eksternal dan ketidakpastian kebijakan fiskal. Investor disarankan untuk tetap selektif dan mengamati perkembangan kebijakan Menteri Keuangan baru serta kondisi pasar global yang mempengaruhi sentimen investasi.