Media Kampung, Jombang – Panitia Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) secara resmi menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 557 orang setelah proses verifikasi yang ketat. Jumlah ini dianggap telah memenuhi kuorum pelaksanaan muktamar yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Rais Syuriyah PBNU sekaligus Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar Ke-35 NU, Profesor Mohammad Nuh, memastikan kuorum aman dengan persentase mencapai sekitar 97 persen dari total 590 DPT yang diajukan. Namun, terdapat tiga DPT yang dicoret karena tidak memenuhi persyaratan administrasi.

Baca juga:

Verifikasi dan Komposisi Pemilik Hak Suara

Panitia melakukan verifikasi terhadap kepengurusan PWNU, PCNU, dan PCINU sebagai dasar penetapan DPT. Setiap PCNU mengirim empat perwakilan, sementara PWNU dan PCINU juga mengirim empat perwakilan masing-masing. Perwakilan tersebut terdiri atas Rais Syuriyah, Katib Syuriyah, Ketua, dan Sekretaris sesuai data kepengurusan yang telah diverifikasi.

Mohammad Nuh menjelaskan bahwa sekitar tiga persen kepengurusan tidak masuk dalam DPT karena tidak memenuhi persyaratan administrasi. Khusus untuk PCINU, pembaruan data lebih kompleks karena sebagian pengurus adalah mahasiswa yang berada di luar negeri, sehingga proses verifikasi lebih rumit.

Pelaksanaan Muktamar dan Sistem Keamanan

Muktamar Ke-35 NU dipastikan berlangsung secara luring penuh tanpa mekanisme daring atau hibrida. Perwakilan PCINU yang telah terverifikasi akan hadir langsung di Jombang. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir pada pembukaan muktamar yang berlangsung pada 27 Agustus 2026.

Baca juga:

Untuk mendukung keamanan dan validitas peserta, panitia membekali muktamirin dengan kartu khusus berbasis cip. Kartu ini mengatur akses selama rangkaian kegiatan dan memastikan kepesertaan terverifikasi sekaligus mencegah manipulasi akses.

Konteks dan Dampak

Penetapan DPT yang telah diverifikasi dan memenuhi kuorum menjadi langkah penting dalam menjamin kelancaran Muktamar Ke-35 NU. Kegiatan ini menjadi momen strategis dalam menentukan arah organisasi Nahdlatul Ulama ke depan, dengan melibatkan pemilik hak suara yang sah dan terverifikasi.

Kehadiran tokoh nasional seperti Presiden Prabowo Subianto juga menambah bobot penting Muktamar ini sebagai ajang konsolidasi dan penguatan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.

Baca juga:

Para peserta muktamar mulai berdatangan ke Jombang sejak 26 Agustus 2026, menandai kesiapan pelaksanaan muktamar yang diharapkan berjalan lancar dan sukses.