Media Kampung – Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan kode BMRI mengalami penurunan pada perdagangan akhir Agustus 2026. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan sorotan publik terhadap pemblokiran rekening milik Supriyono alias Mas Botok, koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), yang memicu seruan boikot terhadap Bank Mandiri di media sosial.
Pada penutupan perdagangan Senin, 24 Agustus 2026, harga saham BMRI berada di level Rp4.200 per lembar, turun 20 poin atau sekitar 0,47 persen dari posisi sebelumnya Rp4.220. Sepanjang sesi perdagangan, saham BMRI bergerak di rentang Rp4.170 hingga Rp4.220 dengan volume transaksi mencapai 86,05 juta lembar, meskipun rata-rata volume harian mencapai 139,93 juta lembar.
Pelemahan saham ini merupakan bagian dari tren penurunan yang lebih panjang, dengan kinerja saham BMRI turun sekitar 1,87 persen selama satu bulan terakhir dan 14,63 persen dalam kurun satu tahun. Meskipun demikian, dalam lima hari terakhir terdapat pertumbuhan tipis sebesar 0,96 persen. Kapitalisasi pasar Bank Mandiri saat ini berada di kisaran Rp388 hingga Rp396 triliun.
Isu pemblokiran rekening milik Supriyono muncul karena rekening tersebut digunakan untuk menggalang dana donasi sekitar Rp80,9 juta yang akan digunakan untuk aksi unjuk rasa yang dijadwalkan pada 27 Agustus 2026 di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bank Mandiri menyatakan bahwa pemblokiran dilakukan sesuai prosedur dan atas permintaan aparat penegak hukum. Surat permohonan penundaan transaksi disampaikan oleh Polda Metro Jaya, sehingga bank menjalankan arahan tersebut secara formal.
Namun, ketidakjelasan antara istilah pemblokiran yang digunakan bank dan penundaan transaksi yang dijelaskan aparat kepolisian menimbulkan perdebatan dan isu reputasi di kalangan publik dan investor. Beberapa pengguna media sosial menyerukan boikot terhadap Bank Mandiri sebagai bentuk kekecewaan atas penanganan rekening donasi tersebut.
Dari sisi fundamental, meskipun saham BMRI mengalami tekanan, kinerja keuangan Bank Mandiri pada semester pertama 2026 menunjukkan pertumbuhan laba sebesar 24 persen, didukung oleh peningkatan pendapatan berbasis komisi dan efisiensi biaya operasional. Pertumbuhan kredit juga masih kuat, terutama pada segmen wholesale, dengan loan to deposit ratio (LDR) sekitar 95,1 persen yang mencerminkan likuiditas yang ketat namun masih dalam pengelolaan yang baik.
Penurunan harga saham BMRI turut diikuti oleh saham bank besar lain seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Central Asia (BBCA) yang juga mencatat koreksi pada awal pekan tersebut. Hal ini turut mempengaruhi indeks sektor keuangan secara keseluruhan.
Bank Mandiri sendiri telah menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami nasabah dan masyarakat, serta menegaskan komitmen untuk menjalankan prinsip Good Corporate Governance (GCG), kepatuhan, dan kehati-hatian dalam layanan perbankan. Bank juga memastikan bahwa tindakan yang diambil adalah sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.
Isu terkait pemblokiran rekening donasi ini penting untuk diikuti karena berpotensi mempengaruhi persepsi publik dan investor terhadap reputasi Bank Mandiri, yang bisa berdampak pada pergerakan saham dan kepercayaan pasar ke depan.














Tinggalkan Balasan