Media KampungPemerintah Indonesia terus memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pengembangan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Program ini mendapat sorotan khusus dari Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraannya pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD 2026 serta saat Sidang Paripurna pembahasan RUU APBN 2027.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya Sekolah Rakyat sebagai instrumen strategis untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi. Pemerintah telah berhasil membangun 93 Sekolah Rakyat permanen dalam waktu kurang dari satu tahun, sehingga secara kumulatif terdapat 182 titik Sekolah Rakyat yang beroperasi selama 21 bulan kepemimpinannya. Target pemerintah adalah setiap kota dan kabupaten di Indonesia memiliki minimal satu Sekolah Rakyat.

Baca juga:

Peran Sekolah Rakyat dalam Pendidikan Inklusif

Sekolah Rakyat fokus pada anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang datanya diverifikasi oleh Kementerian Sosial. Anak-anak tersebut ditempatkan di asrama dan diberikan fasilitas penunjang guna memastikan kesiapan mereka melanjutkan pendidikan. Kurikulum yang diterapkan dirancang khusus untuk membangun karakter siswa, meningkatkan rasa percaya diri, dan menumbuhkan optimisme agar mampu bersaing dan meraih prestasi.

Kurikulum Sekolah Rakyat terdiri dari tiga bagian utama:

  • Kurikulum Persiapan: Identifikasi bakat dan minat siswa melalui evaluasi fisik, mental, dan akademik.
  • Kurikulum Sekolah Formal: Pembelajaran akademik yang sistematis sesuai regulasi nasional dari empat kementerian terkait.
  • Kurikulum Sekolah Asrama: Pembentukan karakter dan jiwa kepemimpinan siswa.

Ketiga kurikulum ini saling melengkapi untuk menghasilkan siswa yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter kuat.

Baca juga:

Indikator Kualitas SDM dan Tantangan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan menjadi indikator utama dalam mengukur kualitas SDM. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 75,90 dengan rata-rata lama sekolah 9,07 tahun untuk penduduk usia 25 tahun ke atas. Namun, ketimpangan akses pendidikan masih terjadi antar wilayah dan kelompok ekonomi.

Angka Partisipasi Murni (APM) tingkat SMA sederajat nasional sebesar 68,23 mengindikasikan bahwa masih banyak anak dari keluarga kurang mampu yang terpaksa berhenti sekolah. Kondisi ini menyebabkan kemiskinan berulang dari generasi ke generasi.

Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat

Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjalankan program prioritas. Keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya diukur dari jumlah sekolah yang dibangun, tetapi juga prestasi siswa seperti juara Olimpiade Nasional, juara karate tingkat kabupaten, dan keberhasilan menjadi anggota Paskibraka Nasional.

Baca juga:

Implementasi Pasal 34 UUD 1945 dalam Pendidikan

Program Sekolah Rakyat sejalan dengan amanat Pasal 34 UUD 1945 yang menegaskan kewajiban negara untuk memberikan intervensi kepada masyarakat miskin agar mereka dapat memperoleh pendidikan yang layak. Melalui program ini, negara hadir secara nyata untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu sehingga mereka dapat berprestasi dan menggapai cita-cita.

Menuju Pemerataan Kesejahteraan dan Stabilitas Ekonomi

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu dalam mengawal agenda strategis pemerintah demi menjaga stabilitas ekonomi dan mewujudkan pemerataan kesejahteraan yang inklusif. Sekolah Rakyat menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas SDM nasional dan membuka peluang yang lebih luas bagi generasi penerus.

Dengan pendidikan yang berkualitas dan inklusif, Indonesia diharapkan mampu memutus siklus kemiskinan serta membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing di tingkat global.