Media Kampung – XLSmart Telecom Sejahtera (EXCL) berhasil mencatatkan perbaikan kinerja keuangan pada semester pertama tahun 2026 (1H26) dengan rugi bersih yang menyusut menjadi Rp994 miliar, lebih baik dibandingkan ekspektasi dan periode sebelumnya. Meski masih mencatat rugi, laba bersih ternormalisasi EXCL mengalami peningkatan signifikan hingga empat kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kinerja Keuangan Semester I 2026
EXCL mencatat rugi bersih sebesar Rp277 miliar pada kuartal kedua 2026 (2Q26), lebih baik dibandingkan rugi bersih Rp1,6 triliun pada 2Q25 dan Rp717 miliar pada kuartal pertama 2026 (1Q26). Akumulasi rugi bersih selama 1H26 mencapai Rp994 miliar, menurun dari rugi bersih Rp1,2 triliun pada 1H25.
Di sisi lain, laba bersih ternormalisasi EXCL pada 2Q26 mencapai Rp1,3 triliun, naik signifikan dari Rp305 miliar pada 2Q25 dan hampir setara dengan Rp1,4 triliun pada 1Q26. Secara total, laba ternormalisasi selama 1H26 mencapai Rp2,7 triliun, melonjak dari Rp693 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba ternormalisasi ini mengesampingkan biaya integrasi, percepatan depresiasi pasca-merger, dan impairment aset.
Pendapatan dan EBITDA Tumbuh Positif
Pendapatan EXCL pada 2Q26 meningkat 16% secara tahunan menjadi Rp12,2 triliun dan tumbuh 3% secara kuartalan. Total pendapatan selama 1H26 mencapai Rp24 triliun, naik 26% dibandingkan 1H25, yang setara dengan 52% dari estimasi konsensus 2026.
EBITDA pada 2Q26 juga meningkat menjadi Rp5,5 triliun, naik 24% secara tahunan dan 3% secara kuartalan. EBITDA semester pertama 2026 mencapai Rp11 triliun dengan margin EBITDA stabil di level 45,7%, mencerminkan efisiensi operasional yang terjaga.
Stabilitas ARPU dan Basis Pelanggan
Average Revenue Per User (ARPU) EXCL pada 2Q26 mencapai Rp46,9 ribu, naik 32% secara tahunan meski sedikit menurun 0,8% secara kuartalan akibat penyesuaian daya beli pasca-Lebaran. Manajemen menilai tren ARPU jangka panjang tetap positif.
Jumlah pelanggan stabil di 69,4 juta pada 2Q26, tidak mengalami perubahan kuartalan setelah penurunan sejak merger pada 2Q25 yang berfokus pada peningkatan kualitas basis pelanggan.
Meredanya Beban Integrasi dan Depresiasi
Rugi bersih pada 2Q26 masih dipengaruhi oleh biaya integrasi dan beban percepatan depresiasi pasca-merger. Namun, kedua beban ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya. Biaya integrasi turun drastis menjadi Rp39 miliar dari rata-rata Rp500 miliar, sementara beban depresiasi turun menjadi Rp1,6 triliun dari rata-rata Rp2 triliun.
Manajemen memperkirakan total beban percepatan depresiasi tahun 2026 mencapai Rp4,5-5 triliun, dengan Rp3,7 triliun sudah dibukukan selama 1H26.
Proyeksi dan Strategi Capex
Dengan tren perbaikan kinerja dan meredanya beban integrasi, EXCL berpeluang mencatat rugi bersih yang lebih rendah dari estimasi konsensus 2026 yang memperkirakan rugi bersih Rp1,8 triliun.
Manajemen juga menaikkan panduan belanja modal (capex) tahun 2026 dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun untuk mendukung akuisisi spektrum terbaru dan percepatan realisasi capex, dengan target pertumbuhan pendapatan sejalan pasar dan margin EBITDA di level mid-to-high 40 persen.
Konteks Industri dan Ekonomi
Perbaikan kinerja EXCL terjadi di tengah dinamika industri telekomunikasi yang kompetitif dan tantangan makroekonomi. Stabilitas ARPU dan basis pelanggan yang terjaga menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan perusahaan. Upaya efisiensi biaya dan pengelolaan beban integrasi memberikan kontribusi positif terhadap perbaikan laba.
Dengan strategi investasi yang agresif namun terukur, EXCL siap menghadapi tantangan di semester kedua 2026 dan memanfaatkan peluang pertumbuhan di pasar telekomunikasi Indonesia.















Tinggalkan Balasan