Media Kampung – Rolex, sebagai salah satu merek jam tangan mewah paling dikenal di dunia, semakin sulit diakses oleh konsumen. Meskipun perusahaan memproduksi sekitar 1,15 juta jam per tahun, angka ini tidak cukup untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. Situasi ini dihadapi oleh banyak calon pembeli, termasuk Tom Simpson, yang mengalami kesulitan dalam mencari jam Rolex pertama untuk suaminya di New York.
Proses pembelian jam Rolex tertentu kini menjadi rumit, di mana beberapa dealer mengharuskan calon pembeli memiliki riwayat pembelian sebelumnya. Bahkan, daftar tunggu untuk model-model populer dapat mencapai bertahun-tahun. Dengan harga yang bervariasi mulai dari USD 6.200 hingga ratusan ribu dolar, banyak konsumen yang mencari alternatif melalui pasar sekunder.
Simpson dan suaminya akhirnya memilih untuk membeli jam Rolex Submariner bezel hijau “Starbucks” di pasar sekunder dengan harga 15 persen lebih tinggi dibandingkan harga dealer resmi. Meskipun membayar lebih, Simpson merasa biaya tambahan tersebut sepadan dengan kepastian waktu dan layanan yang didapatkan.
Popularitas Rolex bukan hanya terletak pada kualitas produk, tetapi juga pada citra kesuksesan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Merek ini menjadi simbol prestise, terlihat dari banyaknya tokoh terkenal yang menggunakannya, seperti Ben McKee dari Imagine Dragons yang membeli Rolex Submariner setelah meraih kesuksesan di industri musik.
Namun, pasar Rolex telah berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir. Sekitar satu dekade lalu, konsumen dapat dengan mudah mendapatkan Rolex baru. Namun, sejak 2017, permintaan mulai melampaui produksi. Rolex, yang dikenal dengan ketahanan dan kualitasnya, tidak langsung meningkatkan produksi untuk mengejar permintaan yang terus meningkat.
Pandemi COVID-19 juga berkontribusi pada ketimpangan antara permintaan dan pasokan. Ketika masyarakat beralih ke belanja barang-barang mewah kecil saat kegiatan ekonomi terbatas, permintaan terhadap jam tangan Swiss, termasuk Rolex, melonjak.
Dalam kondisi ini, pasar Rolex tidak hanya bergantung pada kemampuan finansial, tetapi juga pada hubungan dengan tenaga penjual, kesabaran, dan fleksibilitas dalam memilih model yang diinginkan. Dengan cara ini, fenomena kelangkaan model tertentu membentuk harga dan perilaku konsumen di pasar jam mewah.














