Media Kampung – Isu reshuffle kabinet yang akan dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada awal Agustus 2026 kembali menjadi perbincangan publik. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa hingga saat ini Presiden Prabowo belum membahas rencana reshuffle kabinet. Menurutnya, jika reshuffle terjadi, kemungkinan besar bertujuan untuk mengisi posisi-posisi yang kosong akibat perubahan struktur pemerintahan.

Posisi Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan saat ini kosong setelah Silmy Karim tersangkut kasus korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain itu, jabatan Wakil Menteri Pertanian juga kosong setelah Sudaryono dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Mensesneg menegaskan bahwa isu reshuffle ini masih belum dibahas dan masih dalam tahap pengisian kekosongan jabatan.

Baca juga:

Di sisi lain, pengamat politik Rocky Gerung memprediksi bahwa Presiden Prabowo akan segera melakukan reshuffle kabinet besar-besaran dalam waktu dekat, bahkan mungkin mulai minggu depan dan berlangsung secara bertahap hingga Oktober 2026. Prediksi ini didasarkan pada hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan penurunan signifikan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo, dari 81 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026.

Penurunan kepuasan ini berkaitan dengan persepsi publik yang memburuk terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum. Rocky menilai evaluasi menyeluruh terhadap jajaran kabinet diperlukan untuk memperbaiki efektivitas pemerintahan dan menyelamatkan kepemimpinan Presiden Prabowo hingga akhir masa jabatan pada 2029 mendatang. Ia juga menepis anggapan bahwa Presiden Prabowo takut mengganti pejabat penting seperti Kapolri, Panglima TNI, dan Jaksa Agung, dengan menegaskan bahwa perjanjian politik tidak bersifat permanen dan harus dibongkar jika tidak lagi efektif.

Baca juga:

Meskipun muncul prediksi dan spekulasi terkait reshuffle besar-besaran, Istana melalui Mensesneg Prasetyo Hadi menegaskan bahwa belum ada pembahasan resmi mengenai hal tersebut. Fokus pemerintah saat ini lebih kepada pengisian jabatan kosong yang ada akibat perubahan struktur kabinet dan dinamika internal pemerintahan.

Isu reshuffle ini menjadi penting mengingat perombakan kabinet dapat berdampak signifikan pada kebijakan pemerintahan dan citra publik. Langkah evaluasi kinerja kabinet biasanya dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan, terutama ketika tingkat kepuasan publik mengalami penurunan drastis seperti yang terpantau dalam survei SMRC.

Baca juga:

Dengan adanya dinamika ini, masyarakat dan pengamat terus memantau perkembangan kebijakan Presiden Prabowo terkait susunan kabinet, menunggu keputusan yang dapat memperkuat kinerja pemerintahan dalam menghadapi tantangan nasional dan global.