Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan bursa Asia mengalami tekanan pada perdagangan pekan ini, dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang menembus level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Kondisi ini memperburuk sentimen investor yang sudah khawatir terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Rabu (23/7/2026), Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pelemahan signifikan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka di bawah level 24.000, sementara indeks LQ45 juga tertekan. Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa investor asing masih melakukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai mencapai Rp 819,20 miliar, setelah sempat melakukan pembelian dalam beberapa hari sebelumnya.
Tekanan jual terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar, seperti sektor perbankan dan energi. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menjadi pemberat utama indeks. Sementara itu, saham PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ikut tertekan seiring kenaikan harga minyak.
Kenaikan Harga Minyak dan Dampaknya
Harga minyak mentah Brent, acuan internasional, naik 2,27% menjadi USD 96,20 per barel pada sesi perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini dipicu oleh laporan bahwa kelompok Houthi Yaman menargetkan dua kapal tanker minyak Arab Saudi, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan di jalur pelayaran utama. Analis pasar modal, Vipin Dixena, mengatakan bahwa investor kini berada dalam mode hati-hati karena kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi, mengganggu stabilitas nilai tukar, dan mengurangi minat terhadap aset berisiko.
Bursa Asia Variatif
Sementara itu, bursa Asia menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks KOSPI Korea Selatan menjadi yang terkuat dengan kenaikan 2,88%, diikuti Nikkei 225 Jepang yang naik 0,67%. Indeks Hang Seng Hong Kong juga menguat 0,7%, didorong oleh aksi beli di saham-saham berkapitalisasi besar. Namun, indeks Shanghai Composite China hanya naik tipis 0,02%, dan indeks Strait Times Singapura justru turun 0,35%.
Secara keseluruhan, mayoritas bursa Asia ditutup di zona hijau, namun sentimen pasar masih rentan terhadap perkembangan geopolitik dan pergerakan harga komoditas. Investor disarankan untuk mencermati data ekonomi global dan laporan keuangan emiten yang mulai dirilis pada musim laporan keuangan kuartal II 2026.














