Media Kampung, Ranai — Anggota Bundo Kanduang Himpunan Keluarga Minang Sakato (HKMS) Kabupaten Natuna, Yeni Finta, mengajak generasi muda untuk terus melestarikan adat dan bahasa daerah Minangkabau di tengah arus modernisasi dan globalisasi. Ajakan ini disampaikan dalam siaran komunitas di Pro 1 RRI Ranai, Selasa, 14 Juli 2026.

Yeni menekankan bahwa tradisi merantau yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau tidak boleh membuat generasi penerus kehilangan identitas budaya, terutama dalam penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa ibu.

Merawat Seni Karawitan dan Pedalangan Sedari Dini, Anak-Anak Semarang Belajar Gamelan dan Wayang
Baca juga:
Merawat Seni Karawitan dan Pedalangan Sedari Dini, Anak-Anak Semarang Belajar Gamelan dan Wayang

Pentingnya Bahasa Daerah bagi Generasi Muda

Menurut Yeni, penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci utama agar bahasa Minangkabau tidak punah. Ia berharap para orang tua mulai mengenalkan bahasa daerah kepada anak-anak sejak dini.

“Indak lakang dek paneh, indak lapuak dek ujan, itulah harapan kami. Caranya kita gunakan bahasa daerah sehari-hari, kemudian saat ada kegiatan di HKMS kita bawa anak-anak kita agar mereka mendengar dan tahu. Di HKMS itu juga ada tarian daerah, mereka bisa kita ikutkan,” ujar Yeni.

Komunitas Rujak Soto dan RRI Jember Tandatangani MoU untuk Perkuat Pelestarian Budaya Lokal
Baca juga:
Komunitas Rujak Soto dan RRI Jember Tandatangani MoU untuk Perkuat Pelestarian Budaya Lokal

Melalui kebiasaan sederhana ini, anak-anak tidak hanya belajar bahasa tetapi juga nilai-nilai budaya Minangkabau secara alami.

Tantangan Pelestarian Adat di Era Modern

Di era digital, generasi muda lebih akrab dengan budaya global yang masuk melalui teknologi. Namun, Yeni menegaskan bahwa keluarga Minangkabau tetap berpegang pada nilai-nilai luhur seperti sopan santun, hormat kepada orang tua, musyawarah, dan tanggung jawab terhadap kaum dan keluarga.

Ali Ruchi Bertemu Tokoh Seniman dan Budayawan Banyuwangi, Dengar Aspirasi dan Jalin Sinergi untuk Pelestarian Budaya
Baca juga:
Ali Ruchi Bertemu Tokoh Seniman dan Budayawan Banyuwangi, Dengar Aspirasi dan Jalin Sinergi untuk Pelestarian Budaya

“Nan tuo dihormati, nan mudo disayangi, samo gadang baok bakawan, artinya yang tua dihormati, yang muda disayangi, dan yang sebaya diajak berteman, itulah adab yang perlu kita ajarkan kepada generasi penerus kita,” kata Yeni mengakhiri.

Pesan ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat Minang di perantauan, khususnya di Natuna, untuk terus menjaga warisan leluhur di tengah perubahan zaman.