Media Kampung, Gunungsitoli — Konsep ekoteologi menjadi menu utama dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMKN 1 Tuhemberua, Selasa (14/7/2026). Kegiatan yang diikuti seluruh peserta didik baru kelas X ini mengusung tema “Bukan Cuma Jaga Iman, Yuk Kita Jaga Alam.”
Penyuluh Agama Kristen, Marihot Pandapotan Sirait, S.Th., yang menjadi narasumber, mengajak siswa membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan di Indonesia seperti kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor tidak lepas dari perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab.
“Hal-hal yang sering dianggap sepele, seperti membuang sampah sembarangan atau membiarkan hutan dan lahan gundul dieksploitasi tanpa kendali, menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan. Semua itu berawal dari sikap tidak peduli dan kurangnya rasa hormat terhadap alam,” ujar Marihot.
Ia menegaskan, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik yang peduli lingkungan. Para pendidik diharapkan menjadi teladan dalam menumbuhkan budaya hidup bersih, sehat, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian alam.
Konsep Ekoteologi dalam Iman Kristiani
Dalam perspektif iman Kristiani, Marihot memperkenalkan konsep ekoteologi, yakni pemahaman bahwa merawat dan melestarikan ciptaan Tuhan merupakan wujud iman yang nyata. Melalui pemahaman ini, siswa diharapkan mampu mencintai lingkungan sekolah dan sekitarnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.
Ia berharap kegiatan kebersihan di sekolah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sarana pendidikan karakter. Peserta didik didorong berpikir kreatif dalam memanfaatkan sampah, misalnya mengumpulkan botol plastik bekas untuk didaur ulang atau dijual sehingga memiliki nilai ekonomi.
“Melalui kegiatan sederhana seperti menjaga kebersihan dan mengelola sampah, siswa belajar bahwa tidak ada keberhasilan yang diperoleh secara instan. Semua membutuhkan proses, kerja sama, dan kerja keras,” ucap Marihot.
Peran Sekolah dalam Membentuk Karakter Peduli Lingkungan
Marihot menekankan bahwa sekolah merupakan institusi strategis dalam membentuk generasi yang memiliki karakter cinta lingkungan. Budaya tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, dan merawat lingkungan sekolah harus terus ditanamkan sejak dini.
Ia mengajak seluruh warga sekolah untuk memulai langkah nyata dalam mencintai lingkungan dengan menumbuhkan pemahaman ekologi serta membangun kebiasaan hidup bersih dan bertanggung jawab. “Menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Mari kita mulai dari lingkungan sekolah, dari hal-hal kecil, dan mulai hari ini,” pungkasnya.
Marihot juga mengajak peserta didik untuk menanam pohon guna mencegah bencana seperti tanah longsor dan banjir yang telah banyak menelan korban. Ia menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar SMKN 1 Tuhemberua, khususnya Kepala Sekolah Vins Enjelin T. Zega, Wakasek, dan majelis guru yang telah mengundangnya menjadi narasumber.























Tinggalkan Balasan