Media Kampung – 09 April 2026 | SMP Negeri 3 Banyuwangi meluncurkan program bank sampah yang dikelola langsung oleh siswa, mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Inisiatif ini selaras dengan kebijakan pemerintah kabupaten Banyuwangi yang mendorong ekonomi sirkular hingga ke lingkungan sekolah.

Setiap hari siswa mengumpulkan daun kering, ranting, dan limbah organik lainnya dari area kampus yang rindang, kemudian menyalurkannya ke proses pengomposan bertahap.

Proses tersebut dimulai dari pengumpulan, pencacahan ringan, hingga fermentasi setengah matang sebelum menghasilkan kompos siap pakai.

Kompos yang telah matang dikemas dalam kemasan premium dan dipasarkan sebagai pupuk organik dengan harga sekitar tujuh ribu lima ratus rupiah per unit.

Penjualan produk ini tidak hanya menambah pendapatan sekolah, tetapi juga mengajarkan siswa tentang nilai ekonomi dari daur ulang.

Limbah sisa makanan juga dimanfaatkan secara terstruktur; bahan tersebut diolah menjadi pakan maggot yang selanjutnya digunakan untuk memberi makan ikan nila di kolam sekolah.

Penggunaan maggot sebagai pakan ikan menurunkan biaya operasional budidaya ikan sekaligus menutup siklus pemanfaatan sampah organik.

“Sisa makanan dari MBG juga kami kelola sebagai pakan maggot. Hasilnya untuk pakan ikan nila,” kata M. Fadil, siswa kelas 8 yang terlibat aktif dalam kegiatan bank sampah.

Fadil menambahkan bahwa ia telah mengikuti program ini sejak kelas 7 karena minatnya pada pertanian dan pengalaman menanam di rumah.

Kunjungan bupati Banyuwangi pada tanggal tujuh April 2026 menjadi momen penting untuk meninjau pencapaian program tersebut dan menegaskan dukungan pemerintah daerah.

Selama inspeksi, pihak bupati mencatat bahwa model pengelolaan sampah di SMPN 3 dapat direplikasi ke sekolah lain di wilayah tersebut.

Pengelolaan limbah yang terstruktur ini juga mengurangi volume sampah yang masuk ke TPS, membantu mengatasi permasalahan kebersihan lingkungan sekolah.

Guru pembina program menekankan pentingnya pelibatan seluruh komponen sekolah, termasuk tenaga kependidikan dan orang tua, agar kegiatan berkelanjutan.

Dengan hasil penjualan pupuk organik dan penghematan biaya pakan ikan, sekolah memperoleh tambahan dana yang dialokasikan untuk perlengkapan belajar dan fasilitas laboratorium.

Keberhasilan SMPN 3 Banyuwangi menjadi contoh nyata bahwa pendidikan dapat berperan aktif dalam menciptakan solusi ekonomi sirkular di tingkat lokal.

Pengalaman ini diharapkan dapat memotivasi institusi pendidikan lain untuk mengintegrasikan program serupa dalam kurikulum mereka.

Secara keseluruhan, inisiatif bank sampah di SMPN 3 tidak hanya menghasilkan produk ekonomis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.