Media Kampung, Ngawi — Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, seluruh sekolah di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Ngawi menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) secara serentak. Kegiatan yang berlangsung hingga 17 Juli 2026 ini tidak hanya bertujuan mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi momentum pembentukan karakter siswa baru dan pencegahan radikalisasi.

Kepala Dindikbud Ngawi, Kabul Tunggul Winarno, mengatakan MPLS merupakan tahapan krusial bagi siswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Materi yang diberikan mencakup pengenalan lokasi, denah, guru, dan rekan OSIS, serta pendidikan karakter agar siswa siap mengikuti proses pembelajaran ke depan.

Materi Pencegahan Radikalisasi, Narkoba, dan Perundungan

Implementasi nyata terlihat di SMPN 2 Ngawi. Sekolah tidak hanya memberikan materi pengenalan sekolah, tetapi juga mengangkat isu-isu nasional yang penting bagi generasi muda. Kepala SMPN 2 Ngawi, Purwanto, menjelaskan ada tiga materi utama yang menjadi sorotan dalam MPLS tahun ini: pencegahan radikalisasi, ekstremisme, dan terorisme; sosialisasi anti-narkoba (Napza); serta pencegahan aksi perundungan (anti-bullying).

Untuk ketiga program tersebut, sekolah mendatangkan narasumber dari Densus 88 (terkait ekstremisme), Dinas DP3AKB (terkait anti-bullying dan perlindungan anak), serta Polres Ngawi (terkait anti-narkoba).

Antusiasme Siswa dan Sistem Klasikal

Menurut Purwanto, respons siswa baru sangat positif. Anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi mengikuti seluruh rangkaian MPLS. Pelaksanaan MPLS di SMPN 2 Ngawi menggunakan sistem klasikal yang terbagi ke dalam 10 gugus. Setiap gugus dikawal oleh 2 pembina dari guru dan 5 anggota OSIS untuk memastikan kegiatan berjalan kondusif dan terpantau dengan baik.

Dengan pendekatan ini, MPLS di Ngawi tidak hanya menjadi ajang perkenalan, tetapi juga sarana strategis membangun karakter siswa dan mencegah pengaruh negatif sejak dini.