Media Kampung, Dalam budaya Batak, pertanyaan ‘Mangadati gak?’ sering kali menjadi penentu apakah seseorang akan hadir dalam sebuah pernikahan. Jika jawabannya ‘iya’, undangan disambut antusias. Namun, jika ‘tidak’, banyak yang memilih tidak hadir dengan alasan tidak jelas.

Fenomena ini telah berlangsung turun-temurun, tetapi memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa nilai kehadiran seseorang dalam acara sukacita bergantung pada ada atau tidaknya prosesi adat? Apakah hubungan kekeluargaan kini diukur melalui kelengkapan ritual, bukan melalui kebahagiaan dua orang yang memulai kehidupan baru?

Mangadati merupakan simbol penghormatan kepada leluhur, penegasan hubungan antarkeluarga, dan bagian dari identitas budaya. Namun, persoalannya muncul ketika mangadati berubah menjadi ‘tiket sosial’ yang menentukan apakah sebuah acara layak dihadiri. Akibatnya, pasangan yang memilih pernikahan sederhana sering merasa kebahagiaannya dianggap kurang penting.

Budaya Batak dikenal menjunjung solidaritas keluarga. Namun, solidaritas seharusnya hadir ketika keluarga membutuhkan dukungan, bukan hanya ketika acara memenuhi standar adat. Jika seseorang baru bersedia datang setelah mengetahui ada mangadati, muncul pertanyaan: apakah kita datang untuk memberi restu atau karena acara memenuhi syarat adat?

Generasi muda saat ini hidup dalam kondisi berbeda. Banyak yang merantau, membangun karier, dan menghadapi tantangan ekonomi. Sebagian memilih pernikahan sederhana dengan berbagai pertimbangan. Keputusan itu tidak berarti meninggalkan adat, tetapi sering direspons dengan menurunnya antusiasme untuk hadir.

Sudah saatnya pertanyaan ‘Mangadati gak?’ tidak lagi menjadi penentu kehadiran. Pertanyaan itu boleh ada sebagai bentuk kepedulian, tetapi jangan menjadi alat menentukan apakah undangan layak dihargai. Yang paling dibutuhkan pasangan pengantin adalah keluarga yang hadir karena ingin berbagi kebahagiaan, bukan karena prosesi adat lengkap.

Menjaga adat tidak berarti menjadikannya syarat untuk menunjukkan kasih kepada keluarga. Jika seseorang lebih dahulu bertanya ‘Mangadati gak?’ daripada mengucapkan selamat, yang perlu direnungkan adalah makna kehadiran kita sendiri. Keluarga sejatinya hadir untuk menguatkan, bukan sekadar menyaksikan prosesi adat. Jika kehadiran hanya diberikan kepada yang ‘mangadati’, yang memudar bukan adat Batak, melainkan esensi kekeluargaan yang menjadi roh adat itu sendiri.