Media Kampung, Jambi – Hewan peliharaan maupun hewan liar dapat membawa mikroorganisme yang dalam kondisi tertentu mampu menularkan penyakit kepada manusia. Penyakit ini dikenal sebagai zoonosis, yaitu penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia melalui gigitan, cakaran, kontak langsung, makanan yang terkontaminasi, maupun perantara seperti nyamuk atau kutu.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang secara alami dapat ditularkan antara hewan vertebrata dan manusia. WHO memperkirakan bahwa sekitar 60 persen penyakit infeksi yang menyerang manusia berasal dari hewan, dan sekitar 75 persen penyakit infeksi baru (emerging infectious diseases) memiliki sumber dari hewan.
Beberapa contoh zoonosis yang perlu diwaspadai antara lain rabies, leptospirosis, toksoplasmosis, dan flu burung. Risiko penularan dapat meningkat apabila seseorang tidak menjaga kebersihan setelah berinteraksi dengan hewan, mengonsumsi produk hewani yang tidak dimasak hingga matang, atau melakukan kontak dengan hewan yang sedang sakit tanpa menggunakan perlindungan yang memadai.
Ahli mikrobiologi veteriner Prof. Martin Hugh-Jones pernah menekankan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Pandangan ini sejalan dengan konsep One Health, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan dalam upaya mencegah penyakit.
Pencegahan zoonosis dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mencuci tangan setelah memegang hewan, menjaga kebersihan kandang, memberikan vaksin sesuai anjuran pada hewan peliharaan, serta menghindari kontak langsung dengan hewan liar yang sakit atau berperilaku tidak normal. Jika mengalami demam, luka akibat gigitan atau cakaran hewan, atau keluhan lain setelah berinteraksi dengan hewan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Penanganan yang cepat dapat mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan peluang kesembuhan.






















Tinggalkan Balasan