Media Kampung, Madiun – Ibu yang menderita tuberkulosis (TBC) tetap dapat menyusui bayinya selama menjalani pengobatan secara rutin dan menerapkan langkah pencegahan penularan. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Tim Kerja Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Ponorogo, Triyana Wahyudianto.
Menurut Triyana, bakteri penyebab TBC tidak menular melalui air susu ibu (ASI), melainkan melalui udara. "Bakteri TBC menular lewat udara. Jadi bukan lewat ASI," tegasnya, Minggu (5/7/2026).
Ibu yang didiagnosis TBC tidak perlu takut untuk tetap memberikan ASI kepada bayinya. Namun, Triyana menegaskan bahwa ibu tersebut harus menjalani pengobatan dengan obat antituberkulosis (OAT) secara rutin. Obat tersebut aman dikonsumsi oleh ibu hamil maupun menyusui.
Pengobatan yang teratur membantu menurunkan risiko penularan. Setelah menjalani pengobatan rutin selama sekitar dua bulan, penderita umumnya tidak lagi menularkan TBC kepada orang lain.
Selain pengobatan, Triyana mengimbau ibu penderita TBC menggunakan masker yang menutup rapat hidung dan mulut, terutama pada masa awal pengobatan. Langkah ini bertujuan mengurangi penyebaran bakteri TBC melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
"Kami harapkan ketika masih masa awal minum obat TBC, ibu yang menyusui tetap menggunakan masker yang standar, yaitu masker yang bisa menutup rapat hidung dan mulut. Karena kuman TBC keluar lewat batuk dan bersin. Kalau memakai masker yang rapat, kumannya akan tertahan di masker sehingga tidak keluar ke udara dan tidak menularkan ke orang di sekitar," ujarnya.
Triyana mengimbau ibu penderita TBC tetap disiplin menjalani pengobatan dan menerapkan langkah pencegahan penularan selama beraktivitas bersama bayinya. Dengan demikian, ibu tetap dapat memberikan ASI sekaligus melindungi bayi dan orang di sekitarnya dari risiko penularan TBC.























Tinggalkan Balasan