Media Kampung – Kasus malaria di Indonesia kembali meningkat pada tahun 2025, dengan total 706.297 kasus yang tercatat oleh Kementerian Kesehatan. Angka ini naik sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 543.965 kasus. Kenaikan tersebut menimbulkan keprihatinan dan perhatian khusus dari berbagai pihak, termasuk para ahli yang menyoroti faktor lingkungan dan risiko zoonosis sebagai penyebab utama sulitnya pengendalian penyakit ini.
Prof. Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, mengungkapkan bahwa kondisi lingkungan menjadi faktor kunci dalam penyebaran malaria. Nyamuk Anopheles sebagai vektor malaria sangat bergantung pada lingkungan yang mendukung perkembangbiakannya. Beberapa daerah di Indonesia, terutama wilayah timur seperti Papua, memiliki kondisi geografis yang sangat ideal untuk nyamuk berkembang, seperti curah hujan tinggi, topografi pegunungan, dan banyak genangan air bersih. Sekitar 95 persen kasus nasional masih terkonsentrasi di wilayah tersebut.
Kondisi serupa juga ditemukan di beberapa kawasan lain seperti Kalimantan, Sumatera, dan Pegunungan Menoreh di Kulon Progo, yang masih memiliki kasus malaria endemis. Menurut Prof. Wisnu, jika lingkungan mendukung, nyamuk Anopheles dengan mudah berkembang biak dan menyebarkan penyakit malaria.
Selain faktor lingkungan, ancaman malaria zoonosis juga menjadi perhatian serius. Prof. Wisnu menjelaskan bahwa malaria tidak hanya ditularkan antar manusia, tetapi juga berasal dari satwa liar, terutama primata seperti monyet ekor panjang dan orangutan. Plasmodium knowlesi adalah salah satu parasit malaria zoonotik yang hidup secara alami pada primata dan bisa menular ke manusia melalui gigitan nyamuk. Parasit ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan demam tinggi dalam satu hingga dua hari dan berpotensi fatal jika tidak segera ditangani.
Dalam hal pengobatan, pemerintah menyediakan obat antimalaria secara gratis di wilayah endemis. Namun, efektivitas pengobatan menghadapi hambatan karena resistensi parasit terhadap obat lama seperti Kina. Hal ini mengharuskan penggunaan obat generasi baru yang lebih mahal dan distribusinya lebih rumit. Kesulitan akses dan faktor keamanan di daerah terpencil juga menghambat tenaga kesehatan dalam memberikan diagnosis dan pengobatan tepat waktu.
Prof. Wisnu menekankan pentingnya edukasi masyarakat dalam pencegahan malaria, terutama dalam pengendalian nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan. Dia juga mengingatkan bahwa pengendalian malaria harus dilakukan dengan pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan agar dapat efektif.
Target eliminasi malaria pada tahun 2030 masih memungkinkan tercapai jika semua pihak dapat bekerja sama dan berkoordinasi secara terpadu. Prof. Wisnu mengingatkan agar pendekatan One Health tidak hanya menjadi slogan, melainkan diimplementasikan secara nyata dalam upaya bersama mengatasi malaria di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan