Media Kampung – 09 April 2026 | Survei terbaru mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih jarang melakukan medical check-up rutin, meski layanan tersebut tersedia secara luas.
Data Kementerian Kesehatan mencatat hanya 22 persen orang dewasa berusia 18‑60 tahun yang melakukan pemeriksaan lengkap setidaknya sekali dalam dua tahun terakhir.
Para psikolog mengaitkan pola ini dengan persepsi pribadi bahwa tubuh yang terasa baik berarti tidak membutuhkan pemeriksaan medis.
Keyakinan semacam itu menumbuhkan rasa aman palsu, sehingga individu menunda atau bahkan mengabaikan anjuran dokter.
Selain itu, stigma sosial terhadap penyakit kronis memperparah penundaan, karena banyak orang takut dianggap lemah atau sakit kronis oleh lingkungan.
Stigma ini kerap menimbulkan rasa malu yang menghalangi terbukanya dialog terbuka tentang kesehatan pribadi.
Denial atau penolakan terhadap kemungkinan penyakit juga menjadi penghalang utama, terutama ketika gejala masih samar atau tidak terasa.
“Orang cenderung menutup mata pada risiko kesehatan bila mereka belum merasakan keluhan yang jelas,” ujar Dr. Anita Prasetyo, psikolog klinis yang meneliti perilaku kesehatan.
Akibat penundaan, diagnosis penyakit sering terjadi pada stadium lanjut, menurunkan peluang penyembuhan dan meningkatkan komplikasi.
Statistik rumah sakit menunjukkan bahwa 48 persen kasus kanker terdeteksi pada stadium III atau IV, yang sebagian besar dapat diperkirakan lebih awal melalui skrining rutin.
Biaya perawatan pada tahap lanjutan jauh lebih tinggi, menambah beban ekonomi baik bagi pasien maupun sistem kesehatan nasional.
Pemerintah telah meluncurkan program “Sehatkan Indonesia” yang menyediakan subsidi pemeriksaan dasar bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Program tersebut juga mencakup pelatihan tenaga kesehatan lapangan untuk melakukan kunjungan rumah dan memberikan edukasi singkat tentang pentingnya skrining.
Beberapa LSM kesehatan menanggapi dengan mengadakan kampanye edukatif di pasar tradisional, sekolah, dan tempat ibadah, menekankan bahwa pemeriksaan dini tidak berarti diagnosis pasti penyakit.
Para ahli menyarankan pendekatan yang menggabungkan edukasi psikologis, pengurangan stigma, dan akses layanan yang mudah dijangkau.
Contoh sukses terlihat di Kabupaten Bantul, di mana program mobilisasi kesehatan berbasis komunitas meningkatkan partisipasi check-up dari 15 menjadi 37 persen dalam satu tahun.
Dengan meningkatkan kesadaran dan mengatasi hambatan psikologis, harapan untuk menurunkan angka morbiditas penyakit kronis dapat tercapai.
Upaya bersama antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengubah pola sikap terhadap pemeriksaan kesehatan secara berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




