Media Kampung – AstraZeneca bersama Roche Diagnostics Asia Pacific menjalin kerja sama selama tiga tahun guna mempercepat penerapan patologi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam penanganan kanker payudara dan paru-paru di sembilan negara Asia. Langkah ini diharapkan meningkatkan kualitas layanan diagnostik dan terapi kanker melalui pengujian biomarker yang lebih presisi.
Kolaborasi tersebut merupakan inisiatif pertama di Asia yang menggabungkan teknologi patologi digital dan komputasional berbasis AI dengan program edukasi dan pelatihan bagi tenaga medis. Fokus utama adalah memperbaiki pengujian biomarker pada kanker payudara dan kanker paru-paru, dua jenis kanker yang prevalensinya tinggi di Asia.
Data menunjukkan hampir separuh kasus kanker payudara dan lebih dari 60 persen diagnosis kanker paru baru terjadi di kawasan ini. Pada kanker payudara, hampir setengah perempuan Asia memiliki tingkat HER2 yang rendah, sementara biomarker TROP2 ditemukan pada 82 hingga 90 persen kasus kanker paru non-sel kecil (NSCLC). Penilaian biomarker ini sangat penting untuk menentukan terapi yang tepat bagi pasien, terutama terapi antibody drug conjugate yang dapat memberikan respon lebih baik pada pasien dengan ekspresi TROP2 tinggi.
Meski teknologi patologi digital berbasis AI terbukti dapat meningkatkan akurasi dan konsistensi diagnosis, pemahaman dan penggunaannya di Asia masih terbatas. Hanya 17 persen tenaga medis yang menyatakan mereka memahami teknologi ini dengan baik, dan penggunaan tes komputasional di fasilitas klinis masih rendah. Di Filipina, misalnya, 60 persen dokter onkologi mengaku mengalami keterbatasan akses terhadap fasilitas pengujian biomarker.
Arun Krishna, Area Vice President AstraZeneca Asia, mengatakan bahwa kolaborasi ini bertujuan mengatasi kesenjangan layanan diagnostik yang berpengaruh pada hasil pengobatan pasien kanker. “Dengan memperluas program edukasi dan penerapan patologi berbasis AI, kami ingin memastikan semakin banyak pasien mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat sejak awal,” ujarnya.
Teknologi AI dalam patologi membantu mengurangi subjektivitas dan meningkatkan standar pemeriksaan yang selama ini bergantung pada pengalaman tenaga medis. Studi menunjukkan pemanfaatan AI dapat mendukung pengambilan keputusan terapi yang sesuai, yang berujung pada peningkatan respons pengobatan dan memperpanjang masa hidup tanpa progresi penyakit.
Lance Little, Kepala Wilayah Roche Diagnostics Asia Pacific, menegaskan pentingnya diagnosis cepat dan akurat sebagai dasar layanan kanker yang efektif. Menurutnya, kolaborasi ini memperkuat kapabilitas diagnostik dan mempercepat adopsi patologi digital di berbagai sistem layanan kesehatan Asia Pasifik. “Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan konsistensi diagnosis dan standar layanan bagi pasien kanker payudara dan paru-paru,” tuturnya.
Kerja sama AstraZeneca dan Roche Diagnostics ini menjadi harapan baru dalam mempercepat integrasi diagnostik presisi di Asia, yang selama ini masih mengalami keterbatasan akses dan pemahaman teknologi mutakhir. Dengan pendekatan ini, diharapkan pasien kanker di kawasan ini dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan efektif.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan