Media Kampung – Sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-79 yang diselenggarakan di Jenewa resmi dibuka dengan kehadiran para menteri kesehatan dan diplomat dari berbagai negara. Pertemuan ini fokus membahas sejumlah isu krusial, termasuk penanganan wabah Ebola dan hantavirus serta tantangan pendanaan kesehatan global yang dihadapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pada sidang yang berlangsung pada Rabu, 20 Mei 2026 tersebut, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyoroti pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi berbagai ancaman kesehatan lintas batas. Ia mengingatkan bahwa dunia sedang menghadapi masa sulit akibat konflik, tekanan ekonomi, perubahan iklim, serta berkurangnya bantuan dari donor internasional.
Sidang ini digelar sehari setelah WHO menetapkan status darurat kesehatan masyarakat internasional terkait wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo dan telah menyebar ke Uganda. Selain itu, organisasi kesehatan global juga tengah menangani kasus hantavirus yang muncul di kapal pesiar MV Hondius yang baru tiba di Belanda. Evakuasi dan pemulangan penumpang kapal tersebut dikoordinasikan bersama oleh Spanyol dan WHO, sementara awak kapal yang tersisa menjalani karantina selama 42 hari dan kapal itu sendiri menjalani proses pembersihan menyeluruh.
Tedros menekankan bahwa kedua wabah ini memperlihatkan betapa krusialnya respons cepat dan koordinasi antarnegara dalam mengatasi risiko kesehatan yang melintasi batas wilayah. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa WHO tengah menghadapi tekanan besar dari sisi keuangan akibat pemotongan dana donor dalam setahun terakhir. Organisasi ini terpaksa melakukan restrukturisasi program dan pengurangan staf untuk menyesuaikan kondisi tersebut.
WHO mencatat adanya tunggakan kontribusi dana hampir 360 juta dolar AS hingga akhir 2025, yang setara dengan sekitar Rp6,3 triliun. Meski demikian, Tedros menilai WHO kini lebih siap dan tangguh setelah menjalani reformasi hampir satu dekade. Ia menyoroti beberapa inisiatif penting yang sudah dijalankan, seperti pembentukan pusat intelijen pandemi di Berlin dan pusat transfer teknologi mRNA di Afrika Selatan.
Selain itu, Pandemic Fund yang dikelola bersama dengan Bank Dunia telah menyalurkan hibah sebesar 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp24,7 triliun kepada 128 negara. Sidang kali ini juga membahas Perjanjian Pandemi dan sistem akses patogen, serta isu lain seperti malaria, resistansi antimikroba, kesehatan mental, kecerdasan buatan, dan kesiapsiagaan darurat global.
Dengan fokus pada penanganan wabah dan penguatan sistem kesehatan internasional, sidang WHO ke-79 menjadi momentum penting untuk memperkuat kerja sama global di tengah berbagai tantangan kesehatan yang terus berkembang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan