Media Kampung – Beberapa wilayah di Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat akibat fenomena iklim global seperti El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang sedang berkembang menuju fase positif.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menegaskan pentingnya antisipasi dini untuk menghadapi musim kemarau tahun ini. Langkah koordinasi lintas sektor dan penyampaian informasi peringatan dini hingga tingkat desa dan kelurahan menjadi fokus utama agar masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan baik.

Untuk mengurangi risiko karhutla, BMKG meningkatkan akurasi prediksi cuaca dan iklim, memperkuat diseminasi informasi, serta mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan sesuai kebutuhan di lapangan. Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa pemantauan cuaca kini didukung oleh radar dan sistem prakiraan berbasis nowcasting untuk memberikan informasi cuaca ekstrem yang lebih tepat waktu dan akurat.

Meski sebagian besar wilayah sudah mulai kering, BMKG mencatat potensi hujan ringan hingga sedang masih terjadi di sejumlah daerah seperti Aceh, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Namun, dengan kondisi yang semakin kering di wilayah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, kewaspadaan terhadap karhutla tetap perlu ditingkatkan.

Di Jawa Tengah, khususnya wilayah bagian selatan, BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap melaporkan bahwa curah hujan selama tiga dasarian berturut-turut berada di bawah ambang batas 50 milimeter, menandai mulai masuknya musim kemarau di daerah tersebut. Sementara itu, di Surabaya yang juga mulai memasuki musim kemarau, BMKG Juanda memperingatkan adanya potensi hujan lokal pada sore hingga malam hari akibat pembentukan awan konvektif dari pemanasan siang hari, sehingga masyarakat tetap diimbau waspada terhadap perubahan cuaca mendadak.

Badang Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Plt Deputi Bidang Pencegahan, Pangarso Suryotomo, meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau panjang. BNPB telah mengedarkan surat kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar melakukan mitigasi kekeringan, menyiapkan sumber daya air bersih, serta menguatkan desa tangguh bencana. Kesiapan menghadapi potensi karhutla juga menjadi fokus utama, terutama melalui koordinasi bersama masyarakat dan relawan.

Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Aziz Akbar Mukasyaf, menekankan pentingnya sosialisasi dan mitigasi sejak awal untuk menanggulangi dampak musim kemarau panjang. Penurunan curah hujan yang signifikan dapat mengurangi cadangan air tanah dan memperbesar risiko stres air pada tanaman, sehingga meningkatkan kemungkinan gagal panen dan kebakaran lahan. Kondisi ini terutama terasa di wilayah dengan iklim semi-kering seperti Nusa Tenggara dan sekitarnya.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap efek suhu tinggi dan potensi kekeringan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, pemerintah dan berbagai lembaga terus memperkuat sistem informasi dan kesiapsiagaan agar risiko akibat musim kemarau dapat diminimalkan secara optimal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.