Media Kampung – 14 April 2026 | El Niño diperkirakan kembali menguat pada tahun 2026, menimbulkan ancaman signifikan terhadap pola cuaca Indonesia, khususnya musim kemarau di wilayah Jawa dan Sumatra.

Peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah diprediksi memicu kondisi kering yang meluas.

Kondisi ini muncul karena melemahnya angin pasat yang biasanya menggerakkan air hangat ke barat, sehingga suhu laut di wilayah tengah dan timur Pasifik naik.

Akibatnya, sirkulasi Walker berubah, mengurangi curah hujan di wilayah tropis Asia Tenggara.

Data BMKG menunjukkan potensi penurunan curah hujan hingga 30 % pada bulan Juni‑Agustus 2026 di sebagian besar pulau besar Indonesia.

Penurunan hujan diperkirakan akan memperpanjang musim kemarau, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Para petani di Jawa Barat dan Jawa Tengah melaporkan kekhawatiran atas penurunan produksi padi karena kurangnya pasokan air irigasi.

Pihak Kementerian Pertanian menyiapkan program cadangan air dan distribusi benih tahan kekeringan.

Di sisi lain, pakar badai Bryan Norcross menekankan bahwa El Niño kuat dapat memengaruhi lintasan badai tropis di Atlantik.

Ia menyatakan, ‘Kombinasi El Niño kuat dengan pola sirkulasi atmosfer dapat mengubah lintasan badai tropis di Atlantik,’ yang dapat mengurangi frekuensi badai di wilayah Karibia namun meningkatkan ancaman di Pantai Timur Amerika Serikat.

Fenomena ini juga dapat memperkuat tekanan tinggi di wilayah Atlantik Utara, menciptakan kondisi yang kurang menguntungkan bagi pembentukan badai.

Namun, model klimatologi menunjukkan bahwa dampak pada lintasan badai tetap dipengaruhi oleh faktor lain, termasuk suhu permukaan laut Atlantik dan fase kutub.

Di Indonesia, El Niño biasanya memperparah kondisi kering di wilayah timur, terutama Nusa Tenggara dan Maluku.

Selama periode Desember‑Februari 2026, BMKG memperkirakan curah hujan di daerah tersebut dapat turun hingga 40 % dibandingkan rata-rata historis.

Penurunan hujan ini meningkatkan risiko kekeringan yang dapat memicu krisis air bersih di daerah pedesaan.

Pemerintah daerah Jawa Timur telah mengaktifkan program mitigasi kebakaran hutan dengan menambah patroli dan penyuluhan kepada petani.

Selain dampak agrikultur, El Niño dapat memperburuk kualitas udara di wilayah perkotaan karena berkurangnya hujan yang membersihkan partikel polutan.

Beberapa kota besar melaporkan indeks kualitas udara (AQI) meningkat hingga level tidak sehat selama fase puncak El Niño.

BMKG pada 12 April 2026 mengonfirmasi bahwa El Niño berada pada fase berkembang, dan akan terus dipantau secara intensif selama enam bulan ke depan.

Pengamatan satelit dan buoy menunjukkan suhu laut di ekuator Pasifik tengah telah naik 0,8 °C di atas rata‑rata normal, menandakan potensi El Niño kuat pada akhir tahun.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.