Media Kampung, Jakarta — Permintaan daya listrik untuk server yang dioptimalkan kecerdasan buatan (AI) diprediksi melampaui konsumsi server konvensional pada 2027. Hal ini diungkapkan dalam laporan terbaru Gartner yang dirilis pekan ini.

Gartner memperkirakan pada 2026, konsumsi listrik server AI akan tumbuh 47,8 persen, sementara server konvensional hanya tumbuh 1,2 persen. Tren ini menunjukkan pergeseran besar dalam infrastruktur pusat data global.

Secara keseluruhan, konsumsi listrik pusat data dunia diperkirakan naik dari 447 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi 565 TWh pada 2026, atau meningkat 26 persen. Tahun ini, permintaan daya pusat data global diprediksi mencapai 132 gigawatt (GW), naik dari 104 GW pada 2025. Gartner bahkan memperkirakan permintaan bisa menembus 290 GW pada 2030.

Linglan Wang, Director Analyst Gartner, mengatakan bahwa lonjakan permintaan daya ini didorong oleh beban kerja AI yang intensif secara komputasi. “Kapasitas AI kini terkendala oleh ketersediaan daya, sehingga keamanan daya pusat data menjadi medan pertempuran baru untuk skala dan margin dalam perlombaan AI global,” ujarnya.

Gartner mencatat bahwa server yang dioptimalkan AI akan menyumbang 31 persen konsumsi listrik pusat data pada 2026, tumbuh 84,2 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, konsumsi listrik untuk sistem pendingin dan infrastruktur lainnya juga naik 22,6 persen.

Laporan ini muncul di tengah kekhawatiran dampak lingkungan dari pusat data. Sebagai contoh, konsumsi listrik Google pada 2025 mencapai 43 TWh, hampir 10 persen dari total global. Sebagian besar energi tersebut tidak berasal dari sumber terbarukan. Selain itu, sekitar 80 persen pusat data dunia dibangun di lokasi dengan iklim kurang optimal, sehingga membutuhkan sistem pendingin tambahan yang boros energi.

Peningkatan permintaan daya dari pusat data juga berpotensi membebani infrastruktur listrik lokal, memperburuk hubungan dengan masyarakat sekitar.