Media KampungByteDance, perusahaan di balik TikTok dan aplikasi pengeditan video CapCut, memutuskan untuk mengembangkan CPU sendiri guna mendukung infrastruktur AI mereka. Langkah ini diambil karena keterlambatan pengiriman prosesor dari pemasok eksternal yang mencapai berbulan-bulan.

Perusahaan asal China ini tengah menjajaki dua arsitektur chip yakni Arm dan RISC-V. Arm menggunakan ISA proprietary dengan fitur tetap, sedangkan RISC-V merupakan arsitektur open-source yang modular dan bebas royalti, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengembang chip besar.

ByteDance sudah menjalin komunikasi dengan beberapa mitra eksternal terkait desain chip serta kapasitas manufaktur di pabrik-pabrik semikonduktor. Proyek ini masih dalam tahap awal dan belum diumumkan secara resmi oleh ByteDance.

Prosesor yang dikembangkan ByteDance akan digunakan dalam pusat data dan server AI mereka, khususnya untuk mendukung produk AI seperti platform pengembangan Coze. Hal ini menjadi penting mengingat meningkatnya kebutuhan CPU untuk proses inferensi dalam industri AI.

Media Kampung melaporkan bahwa Intel dan AMD, pemasok utama ByteDance saat ini, menghadapi kendala pengiriman dengan waktu tunggu hingga enam bulan untuk Intel dan sepuluh minggu untuk AMD di pasar China. Kondisi ini diperparah oleh krisis pasokan memori yang membuat harga komponen menjadi mahal dan sulit diprediksi.

Tren pembuatan chip internal ini juga diikuti oleh perusahaan teknologi besar lain seperti Google yang telah meluncurkan CPU berbasis Arm sejak 2024, serta Microsoft dan Amazon yang mengembangkan silikon kustom untuk pusat data mereka.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.