Media Kampung – Pemerintah Korea Selatan secara resmi mengumumkan rencana investasi besar-besaran di industri chip kecerdasan buatan (AI) senilai sekitar 900 triliun won atau setara dengan 583 miliar dolar AS. Sebagian besar dana tersebut berasal dari dua raksasa semikonduktor, Samsung dan SK Hynix, yang akan menyumbang 800 triliun won.

Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Presiden Lee Jae Myung dalam sebuah pernyataan yang dilansir Reuters. Investasi tersebut akan difokuskan pada pembangunan fasilitas produksi chip baru di wilayah barat daya Korea Selatan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengamankan posisi negara sebagai pemimpin global dalam rantai pasok chip AI.

Samsung dan SK Hynix sebagai Motor Utama

Menurut Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan, kontribusi Samsung dan SK Hynix mencapai 800 triliun won. Kedua perusahaan ini menguasai sekitar dua pertiga pangsa pasar DRAM global dan merupakan satu-satunya produsen modul HBM (High Bandwidth Memory) yang digunakan untuk prosesor AI buatan Nvidia. Dengan demikian, investasi ini tidak hanya memperkuat infrastruktur produksi, tetapi juga memastikan pasokan komponen vital bagi industri AI dunia.

Skala Investasi yang Belum Pernah Terjadi

Dengan nilai mencapai sepertiga dari produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan tahun 2025 yang diperkirakan sebesar 1,8 triliun dolar AS, rencana investasi ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah. Sebagai perbandingan, Taiwan sebelumnya menjanjikan investasi 250 miliar dolar AS untuk sektor serupa. Namun, detail jadwal investasi belum diungkapkan secara jelas dalam pernyataan presiden.

Selain untuk pembangunan pabrik, dana tersebut juga akan digunakan untuk pengadaan lahan, infrastruktur energi dan air, serta sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mengoperasikan fasilitas-fasilitas baru tersebut.

Risiko di Balik Optimisme

Meski terlihat menjanjikan, rencana ini menyisakan pertanyaan besar: apa yang akan terjadi jika permintaan perangkat keras AI tiba-tiba menurun? Saat ini, banyak perusahaan di seluruh dunia mengadopsi AI karena biaya yang masih terjangkau. Namun, jika biaya pemrosesan token tidak dapat ditekan secara signifikan, perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic mungkin harus menaikkan biaya penggunaan untuk menutupi kerugian.

Ketidakpastian permintaan jangka panjang menjadi risiko utama. Nvidia, Microsoft, Meta, dan perusahaan besar lainnya memiliki keterbatasan modal untuk terus mendanai pengembang model AI. Jika permintaan chip AI tetap tinggi selama 10-15 tahun ke depan—waktu minimal yang dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikan pabrik baru—maka investasi ini akan mengukuhkan Korea Selatan sebagai pemain kunci dalam pasar AI. Namun, jika skenario sebaliknya terjadi, dampaknya bisa sangat serius bagi perekonomian global.

Dengan skala investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, langkah Korea Selatan ini menjadi taruhan besar yang hasilnya masih belum pasti. Yang jelas, industri chip AI tengah memasuki fase ekspansi paling agresif dalam sejarah, dan Korea Selatan memilih untuk berada di garis depan—meski risikonya tidak kecil.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.