Media Kampung – Eks pelatih Timnas Korea Selatan, Hong Myung-bo, menghadapi gelombang kemarahan publik setelah timnya gagal melaju ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Kekecewaan itu tidak hanya diungkapkan di media sosial, tetapi juga melalui aksi nyata: sejumlah kafe, restoran, dan toko di Korea Selatan memasang stiker atau papan bertuliskan “Hong Myung-bo dilarang masuk”.

Fenomena ini pertama kali muncul di sebuah minimarket, lalu menyebar ke berbagai tempat usaha lokal. Foto-foto larangan tersebut viral di media sosial, menjadi bentuk protes publik terhadap keputusan taktis Hong yang dianggap gagal, termasuk saat ia mencadangkan bintang utama Son Heung-min dalam laga penentu melawan Afrika Selatan.

Hong Myung-bo mengundurkan diri dari jabatannya segera setelah Korea Selatan dipastikan tersingkir. Dalam konferensi pers di kamp latihan di Guadalajara, Meksiko, pada 28 Juni 2026, ia menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada masyarakat. “Saya bertanggung jawab penuh atas hasil ini,” ujarnya.

Namun, pengunduran diri itu tidak meredakan amarah publik. Stasiun televisi nasional KBS bahkan memblur wajah Hong saat menayangkan konferensi pers tersebut, sebuah tindakan yang semakin memicu perdebatan. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, juga turut campur dengan menuntut investigasi terhadap Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) terkait proses penunjukan Hong sebagai pelatih.

Ini bukan kali pertama Hong Myung-bo gagal di Piala Dunia. Sebelumnya, ia juga memimpin Taeguk Warriors di Piala Dunia 2014 Brasil, yang juga berakhir di fase grup. Kala itu, ia sempat mengundurkan diri, namun kembali dipercaya 12 tahun kemudian. Sejarah pun berulang dengan hasil yang sama mengecewakan.

Kini, larangan masuk ke tempat-tempat umum menjadi simbol baru kekecewaan publik. Meski beberapa pemilik usaha mengaku memasang larangan itu sebagai candaan, gelombang boikot ini menunjukkan betapa dalamnya kekecewaan masyarakat Korea Selatan terhadap sang legenda yang gagal mengulang sukses sebagai pelatih.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.