Media Kampung, Bengkalis — Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir media sosial seperti TikTok dan Instagram tidak hanya memengaruhi produktivitas, tetapi juga dapat berdampak pada fungsi otak. Kondisi yang dikenal dengan istilah brain rot atau otak tumpul menjadi perhatian para ahli karena berkaitan dengan perubahan cara kerja otak akibat paparan konten digital berlebihan.

Dokter Spesialis Saraf, dr. Lilir Amalini, Sp.N, CFIDN, AIFO-K, menjelaskan bahwa brain rot bukan diagnosis medis, melainkan istilah populer yang menggambarkan penurunan fungsi kognitif akibat overstimulasi dari media sosial. Gejalanya meliputi mudah bosan, sulit fokus, motivasi menurun, hingga merasa otak menjadi tumpul. Kondisi ini dipicu oleh kebiasaan mengonsumsi konten pendek yang terus berganti.

Menurut dr. Lilir, secara medis kondisi tersebut berkaitan dengan dopamin, neurotransmiter yang berperan dalam sistem penghargaan, motivasi, fokus, dan kemampuan belajar. Setiap kali menemukan konten menarik, otak melepaskan dopamin sehingga muncul rasa senang. Namun, paparan terus-menerus dalam waktu lama menurunkan sensitivitas otak terhadap dopamin. Konten pendek memberikan lonjakan dopamin cepat dan instan, sehingga otak membutuhkan stimulasi lebih besar untuk mendapatkan rasa puas yang sama. Akibatnya, seseorang sulit lepas dari kebiasaan scrolling.

Penelitian di bidang neurobiologi menunjukkan bahwa overstimulasi dopamin jangka panjang dapat memengaruhi fungsi kognitif, seperti sulit berkonsentrasi, mudah lupa, penurunan kemampuan mengambil keputusan, emosi labil, serta berkurangnya motivasi melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi seperti membaca buku, belajar, atau berolahraga.

Meski demikian, kondisi ini tidak bersifat permanen. Fungsi otak masih dapat dipulihkan dengan mengurangi paparan stimulasi berlebihan dari media sosial. Langkah yang dapat dilakukan antara lain membatasi penggunaan media sosial 30–60 menit per hari, membiasakan membaca buku cetak, rutin berolahraga, mencukupi waktu tidur, serta melatih otak untuk mengerjakan satu aktivitas dalam satu waktu (single tasking).

“Berikan kesempatan kepada otak untuk beristirahat dari banjir informasi. Aktivitas sederhana seperti membaca buku, olahraga, dan tidur yang cukup dapat membantu mengembalikan keseimbangan fungsi otak,” jelas dr. Lilir. Ia mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak menggunakan gawai. Teknologi dan media sosial tetap bermanfaat jika digunakan proporsional. Namun, ketika penggunaan gawai mulai mengganggu konsentrasi, produktivitas, dan kesehatan mental, itu menjadi sinyal bahwa otak membutuhkan waktu istirahat.