Media KampungFriendster kembali hadir sebagai aplikasi media sosial tanpa algoritma, menekankan pertemuan nyata dan privasi pengguna di era digital, serta tersedia secara gratis di iPhone pada awal 2026.

Platform asal 2003 ini sempat menjadi pelopor jaringan sosial online, mencatat lebih dari 100 juta pengguna pada puncaknya sebelum beralih menjadi situs game pada 2011 dan akhirnya ditutup pada 2015 akibat persaingan ketat dengan Facebook dan MySpace.

Setelah masa dormansi, domain dan merek Friendster dibeli oleh pengusaha teknologi Mike Carson antara tahun 2023 dan 2025, yang mengakuisisi hak milik melalui proses lelang dan menegaskan visi untuk menghidupkan kembali layanan dengan fokus pada interaksi offline.

Versi baru meniadakan iklan, algoritma rekomendasi, dan penjualan data; pengguna hanya dapat menambahkan teman dengan menepuk ponsel bersama, sehingga setiap koneksi terverifikasi secara fisik dan tidak melibatkan profil palsu.

Pengguna cukup membuka aplikasi, mendekatkan kedua perangkat hingga terdeteksi via Bluetooth atau NFC, kemudian menekan tombol konfirmasi; proses ini menghasilkan jaringan pertemanan yang terbatas pada orang yang berada dalam jangkauan fisik.

Pada peluncuran pertama, Friendster menempati peringkat dua dalam kategori Aplikasi Gratis di Apple App Store, menunjukkan antusiasme awal meski belum tersedia untuk pengguna Android, yang masih menjadi pertanyaan bagi pasar global.

Profesor Jan‑Emmanuel de Neve dari Universitas Oxford menekankan bahwa penghilangan algoritma dapat mengurangi dampak negatif pada kesejahteraan mental, sementara Associate Professor Saifuddin Ahmed dari NTU menilai timing peluncuran tepat mengingat kelelahan pengguna terhadap platform yang dipenuhi iklan dan konten berbayar.

Namun, para analis mengingatkan bahwa mengubah kebiasaan scroll tak berujung menjadi interaksi fisik memerlukan adaptasi signifikan, terutama bila Friendster mempertimbangkan fitur premium berbayar yang dapat mengubah model insentifnya.

Beberapa pengguna awal melaporkan pengalaman positif, dengan salah satu pengguna menyatakan, “Menepuk ponsel teman dan langsung terhubung terasa lebih autentik dibandingkan rekomendasi algoritma yang sering tidak relevan.”

Di Indonesia, minat terhadap aplikasi yang menonjolkan privasi dan interaksi nyata meningkat, terutama di kalangan generasi milenial yang mencari alternatif dari platform mainstream yang dianggap terlalu komersial.

Hingga akhir Mei 2026, tim pengembang terus memperbaiki stabilitas aplikasi, menambahkan opsi untuk melihat teman teman pengguna, serta menyiapkan rencana ekspansi ke sistem operasi Android dalam beberapa bulan mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.