Media KampungBulan Dzulhijjah tahun 1447 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk menjalankan berbagai ibadah, termasuk puasa qadha Ramadan. Meski identik dengan ibadah haji dan kurban, bulan ini juga sangat dianjurkan untuk menunaikan puasa sunnah, termasuk mengganti puasa Ramadan yang tertinggal. Pelaksanaan puasa qadha Ramadan pada bulan Dzulhijjah memungkinkan umat Islam mendapatkan pahala berlipat, terutama bila bertepatan dengan hari-hari sunnah seperti puasa Tarwiyah dan Arafah.

Mengganti puasa Ramadan yang belum dilaksanakan menjadi kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu. Namun, ada perbedaan pendapat ulama terkait waktu pelaksanaan qadha Ramadan saat bulan Dzulhijjah. Umar bin Khattab menganjurkan mengganti puasa Ramadan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah karena waktu tersebut dianggap paling utama untuk beribadah. Sebaliknya, Ali bin Abu Thalib berpendapat bahwa mengganti puasa di bulan ini sebaiknya dihindari agar tidak mengorbankan keutamaan puasa sunnah Dzulhijjah yang sangat dianjurkan.

Dalam praktiknya, pelaksanaan puasa qadha Ramadan di bulan Dzulhijjah tetap diperbolehkan dan dianggap sah. Seseorang yang melakukannya juga berkesempatan meraih pahala dari puasa sunnah Dzulhijjah. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam mengetahui lafaz niat yang benar agar ibadah puasa diterima oleh Allah SWT.

Bacaan niat puasa qadha Ramadan yang dianjurkan adalah: “Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaai fardhi syahri ramadhaana lillahi ta’aalaa,” yang artinya “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadan esok hari karena Allah SWT.” Untuk puasa sunnah Dzulhijjah, niat yang dibaca adalah: “Nawaitu shauma syahri dzulhijjah sunnatan lillahi ta’ala,” yang berarti “Saya niat puasa sunnah pada bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”

Selain qadha Ramadan, puasa Tarwiyah yang dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah juga memiliki keutamaan khusus karena berkaitan dengan ibadah haji. Puasa ini dimaknai sebagai persiapan spiritual menjelang puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah, yang memiliki pahala penghapus dosa selama dua tahun. Niat puasa Tarwiyah dapat dibaca dengan lafaz: “Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala,” artinya “Aku niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”

Pelaksanaan puasa qadha Ramadan di bulan Dzulhijjah menjadi solusi bagi Muslim yang belum sempat mengganti puasanya selama Ramadan. Dengan membaca niat yang tepat, ibadah ini tidak hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga memperbesar peluang mendapatkan pahala dari puasa sunnah Dzulhijjah. Kementerian Agama RI menetapkan awal Dzulhijjah 1447 H jatuh pada 18 Mei 2026, sehingga puasa Tarwiyah dan Arafah jatuh pada 25 dan 26 Mei 2026. Momen ini sangat tepat untuk memperbanyak ibadah, termasuk mengganti puasa Ramadan yang tertinggal.

Dengan memahami tata cara dan niat yang benar, umat Islam dapat menjalankan puasa qadha Ramadan secara maksimal. Pelaksanaan ibadah di bulan Dzulhijjah yang penuh berkah ini diharapkan mampu meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Informasi terkait jadwal dan niat puasa ini penting untuk memastikan ibadah berjalan lancar dan diterima.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.