Media Kampung – Umat Islam di Indonesia disarankan memperbanyak niat puasa senin pada bulan Dzulqa’dah demi memperoleh pahala berlipat ganda.

Bulan Dzulqa’dah termasuk tiga bulan haram yang diutamakan dalam hadis sahih, bersama Dzulhijjah dan Muharram, sehingga puasa di dalamnya memiliki keutamaan khusus.

Hadis Bukhari dan Muslim mencatat, “Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab,” menegaskan status suci tiga bulan berurutan.

Karena statusnya sunnah, puasa Dzulqa’dah tidak memiliki batasan maksimal hari; dapat dilakukan satu, dua, atau hingga dua puluh hari, namun tidak boleh mencapai tiga puluh hari seperti puasa Ramadan.

Pertimbangan utama adalah menggabungkan puasa Dzulqa’dah dengan puasa senin‑kamis, praktik yang sudah lama dianjurkan untuk memperkuat niat dan meningkatkan pahala.

Puasa senin diambil berdasarkan hadis Nabi SAW yang menyebutkan, “Amalan yang paling dicintai Allah ketika seseorang berpuasa pada hari Senin,” sehingga menambah nilai ibadah.

Praktik gabungan ini memungkinkan umat melaksanakan puasa pada hari Senin yang jatuh dalam rentang Dzulqa’dah, menghasilkan puasa berturut‑turut yang lebih bermakna.

Data kalender Islam 2026 menunjukkan bahwa Dzulqa’dah dimulai pada 12 September 2026, dengan hari Senin pertama pada 14 September 2026, memberi peluang luas bagi jamaah.

Umat yang ingin memulai niat puasa senin sebaiknya membaca niat dengan hati, misalnya, “Nawaitu shaumata li-yawm al-ithnayn fi shahr Dzulqa’dah” yang berarti niat puasa Senin di bulan Dzulqa’dah.

Setelah niat, disarankan untuk memulai sahur lebih awal, menjaga asupan cairan, dan menghindari aktivitas berat demi menjaga stamina selama berpuasa.

Kombinasi puasa senin‑kamis dengan puasa Dzulqa’dah juga memberikan kesempatan memperbanyak dzikir, membaca Al‑Qur’an, dan bersedekah, yang semuanya meningkatkan kualitas spiritual.

Di Jakarta, Masjid Al‑Hikmah melaporkan peningkatan kehadiran jamaah pada sesi tarawih khusus Dzulqa’dah, mencerminkan antusiasme umat dalam menjalankan ibadah ini.

Para ulama menekankan pentingnya konsistensi niat, karena niat yang tulus menjadi landasan sahnya puasa, terlepas dari lama atau pendeknya durasi puasa.

Jika terdapat halangan kesehatan, Islam memperbolehkan qadha, yaitu mengganti puasa di hari lain setelah bulan Dzulqa’dah berakhir.

Namun, qadha tidak boleh dilakukan pada hari yang sama dengan puasa Dzulqa’dah, untuk menghindari duplikasi puasa yang tidak sah.

Pengawasan kesehatan selama puasa tetap penting; dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo menyarankan pemeriksaan gula darah bagi penderita diabetes sebelum memulai puasa.

Selain manfaat spiritual, puasa senin‑kamis diketahui dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, sebagaimana studi medis internasional yang dipublikasikan pada 2024.

Dengan demikian, niat puasa senin di bulan Dzulqa’dah tidak hanya menambah pahala, tetapi juga mendukung kesehatan tubuh secara holistik.

Pada akhir bulan Dzulqa’dah, umat diharapkan melaporkan pengalaman dan hasil ibadah mereka kepada komunitas, memperkuat ikatan sosial dan semangat kebersamaan.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar masjid di wilayah Jabodetabek telah menyiapkan jadwal khusus untuk shalat tarawih dan ceramah keutamaan Dzulqa’dah, memudahkan jamaah mengakses informasi.

Dengan niat puasa senin yang kuat dan persiapan matang, umat Islam dapat meraih keberkahan maksimal selama bulan suci Dzulqa’dah tahun 2026.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.