Media Kampung – Kabar duka menyelimuti Embarkasi Solo pada 23 April 2026 ketika seorang jemaah asal Tegal dinyatakan wafat di Madinah akibat sesak napas setelah tiba di bandara.

Rodiyah binti Wayan, berusia 68 tahun, merupakan anggota kloter SOC‑03 yang telah berangkat dari Solo pada 20 April dengan penerbangan ke Madinah.

Sesaat setelah mendarat, Rodiyah melaporkan rasa sesak napas yang kemudian memburuk dan menyebabkan henti jantung di fasilitas kesehatan setempat.

Pihak PPIH Embarkasi Solo segera menurunkan jenazah ke Makam Baqi, Madinah, dan mengumumkan rencana pemakaman sesuai prosedur syariah.

Fitriyanto, Ketua PPIH Embarkasi Solo, menyampaikan belasungkawa mendalam dan menegaskan bahwa hak‑hak ibadah haji almarhum akan dibadalkan serta asuransi keluarga diproses secara cepat.

Ia juga mengingatkan bahwa haji merupakan ibadah fisik yang menuntut kebugaran, terutama bagi jamaah berusia lanjut.

Hingga Sabtu 25 April, total 4.675 jemaah dari 13 kloter telah memasuki Asrama Haji Donohudan di Boyolali, dengan 3.935 di antaranya sudah berangkat menuju Tanah Suci.

Operasional keberangkatan berjalan padat; pada hari itu ada empat kloter yang tiba di asrama dan lima kloter yang kembali berangkat ke Arab Saudi.

Data PPIH mencatat ada delapan jemaah yang memerlukan perawatan medis pada hari itu, tiga dirujuk ke RS Moewardi, dua ke RSUP Surakarta, dan tiga dalam observasi di poliklinik embarkasi.

Juru bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaf, menegaskan bahwa kasus Rodiyah merupakan satu dari sekian kasus yang dipantau secara ketat.

Menurut Assegaf, hingga 24 April terdapat 93 jemaah Indonesia yang menjalani rawat jalan di Madinah, mayoritas dengan keluhan kelelahan, hipertensi, atau penyakit penyerta lainnya.

Dia menambahkan bahwa dua jemaah masih dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan satu lagi dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi.

Pemerintah Saudi dan Indonesia telah menyiapkan petugas medis, fasilitas KKHI, serta kerja sama rumah sakit setempat untuk mengantisipasi gangguan kesehatan selama musim haji.

Suhu udara Madinah yang mencapai 36 derajat Celsius menambah tantangan fisik bagi jemaah, terutama bagi mereka yang memiliki komorbiditas.

Para petugas embarkasi menegaskan bahwa protokol hidrasi, istirahat, dan pemeriksaan rutin tetap diterapkan secara ketat.

Keluarga Rodiyah di Tegal menerima kabar duka melalui telepon resmi dari kedutaan Indonesia di Riyadh dan menyatakan terima kasih atas dukungan medis.

Mereka berharap proses pembalikan haji almarhum dapat diselesaikan dengan lancar, serta keluarga memperoleh kompensasi asuransi yang dijanjikan.

Seluruh jemaah yang masih berada di Madinah diberikan jadwal pemeriksaan lanjutan, termasuk tes elektrokardiogram dan pemantauan tekanan darah.

PPIH Embarkasi Solo berkomitmen menyediakan transportasi darurat, layanan ambulans, dan tenaga medis 24 jam untuk memastikan keselamatan semua peserta haji.

Kejadian ini memicu perbincangan di kalangan masyarakat tentang pentingnya persiapan kesehatan sebelum menunaikan ibadah haji, khususnya bagi jamaah senior.

Beberapa pakar kesehatan menekankan bahwa evaluasi medis menyeluruh, termasuk tes fungsi jantung, harus menjadi syarat wajib sebelum keberangkatan.

Selain itu, mereka menyarankan program latihan fisik terstruktur selama masa persiapan di Indonesia untuk meningkatkan stamina.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Agama menyiapkan modul edukasi kesehatan haji yang akan disebarluaskan kepada calon jamaah di seluruh provinsi.

Dengan demikian, diharapkan kejadian serupa dapat diminimalisir pada musim haji berikutnya.

Pihak berwenang juga akan meningkatkan koordinasi dengan rumah sakit Saudi untuk penanganan cepat kasus darurat di lapangan.

Hingga akhir hari kerja, tidak ada laporan tambahan tentang kematian jemaah lain, dan operasi keberangkatan tetap berjalan sesuai jadwal.

Situasi ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, penyelenggara, dan keluarga dalam menjaga kesehatan serta keselamatan jamaah haji.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.