Media Kampung – Barcelona, 14 Juni 2026 – Gestur sederhana Lamine Yamal saat parade juara FC Barcelona beberapa waktu lalu menjadi perbincangan hangat. Di tengah euforia perayaan gelar La Liga, pemain muda itu berdiri di atas bus terbuka sambil memegang bendera Palestina. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya aksi spontan. Namun di Barcelona, kota yang memiliki sejarah panjang perlawanan dan penindasan, simbol semacam itu tidak bisa dibaca sebagai hal yang sederhana.
Untuk memahami mengapa bendera Palestina di Barcelona memiliki resonansi khusus, perlu melihat sejarah panjang perjuangan rakyat Catalan. Catalunya pernah menjadi wilayah dengan identitas politik yang kuat, memiliki bahasa, tradisi, dan sistem pemerintahan sendiri. Namun sejak 11 September 1714, ketika Barcelona jatuh ke tangan pasukan Raja Philip V dari Bourbon setelah dikepung selama 14 bulan dalam Perang Suksesi Spanyol, semuanya berubah. Raja Felipe V memberlakukan Nueva Planta Decrees, serangkaian kebijakan yang mencabut lembaga tradisional, aturan hukum, dan hak otonomi Catalunya. Kekuasaan dipusatkan di Madrid, dan ruang gerak Catalunya semakin sempit.
Luka itu semakin dalam pada era Francisco Franco setelah Perang Saudara Spanyol (1936-1939). Catalunya menjadi basis utama pendukung Republik Spanyol, dan ketika Franco melancarkan ofensif pada awal 1939, Barcelona jatuh pada 26 Januari 1939. Sekitar 200 ribu warga sipil dan tentara Republik mengungsi ke Prancis. Franco mencabut Statuta Otonomi Catalunya, melarang bahasa Catalan di sekolah, media, dan ruang publik, serta menekan simbol-simbol budaya lokal. Ribuan intelektual, aktivis, dan tokoh Republik dipenjara, diasingkan, atau dieksekusi, termasuk Presiden Catalonia, Lluís Companys, yang ditangkap di Prancis dan dieksekusi pada 1940.
Di tengah represi itu, FC Barcelona lahir sebagai simbol perlawanan. Klub ini bukan sekadar tim sepak bola; slogan “Més que un club” lahir dari sejarah panjang kebutuhan untuk tetap terlihat ketika identitas sedang ditekan. Pada masa Franco, Stadion Camp Nou menjadi salah satu ruang aman untuk berkumpul. Mendukung Barcelona adalah cara untuk mengatakan “kami masih ada.” Oleh karena itu, setiap simbol yang muncul di Barcelona memiliki gema yang panjang, termasuk ketika seseorang mengangkat bendera Palestina.
Palestina dan Catalunya tentu bukan cerita yang sama. Palestina bicara tentang kolonialisme, pendudukan, dan konflik sejak Nakba 1948, ketika ratusan ribu warga Palestina terusir dari rumah mereka. Namun resonansi muncul karena kedua bangsa sama-sama mengalami penindasan identitas. Ketika sebuah bangsa merasa identitasnya terus dipertanyakan, mereka memahami bahasa penderitaan bangsa lain tanpa perlu banyak penjelasan.
Mungkin Lamine Yamal tidak memikirkan semua sejarah itu saat mengangkat bendera Palestina. Bisa jadi ia hanya mengikuti suara nuraninya. Namun sejarah sering menempel pada tempat, simbol, dan momen kecil yang tidak direncanakan. Gestur itu bukan hanya tentang Palestina, tetapi juga tentang kota yang tahu rasanya hidup bersama luka sejarah. Barcelona memahami apa artinya memori kolektif, dan Palestina hidup di dalamnya setiap hari.
Banyak orang berharap sepak bola steril dari politik, ingin stadion hanya berisi gol dan sorak-sorai. Namun manusia tidak pernah datang ke stadion sebagai makhluk kosong; mereka membawa sejarah, keyakinan, dan nurani. Sepak bola sering menjadi panggung paling jujur untuk melihat manusia apa adanya. Gestur kecil Yamal mungkin hanya berlangsung beberapa detik, namun bagi banyak orang ia menjadi pengingat bahwa solidaritas lahir dari kemampuan manusia untuk mengingat luka, bahkan luka yang bukan miliknya sendiri. Di zaman ketika banyak orang memilih aman dengan diam, keberanian paling sederhana cukup berupa selembar bendera yang diangkat tinggi-tinggi. Di kota yang sudah terlalu lama tahu bahwa ingatan adalah bentuk lain dari perlawanan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




Tinggalkan Balasan