Media KampungErupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terjadi belakangan ini memicu suara gemuruh dan dentuman yang terdengar di beberapa wilayah seperti Banten, Jawa Barat, dan Lampung. Namun, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rita Susilowati, memastikan bahwa aktivitas erupsi saat ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Potensi Tsunami

Rita Susilowati menjelaskan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk sejak erupsi besar pada 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Oleh karena itu, kondisi gunung saat ini tidak menunjukkan adanya potensi keruntuhan besar yang dapat memicu tsunami. Anak Krakatau saat ini terus tumbuh dengan pembentukan kubah lava baru, namun evaluasi PVMBG belum menemukan perubahan morfologi yang mengindikasikan risiko keruntuhan besar.

Baca juga:

Meski demikian, status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. PVMBG merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung untuk menghindari risiko lontaran material erupsi seperti lapili pijar.

Suara Gemuruh dan Dentuman Erupsi

Erupsi yang terjadi juga memunculkan suara gemuruh dan dentuman yang mengundang perhatian masyarakat di berbagai daerah. PVMBG menduga suara tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi karena waktu kemunculannya bertepatan dengan kejadian erupsi. Meski demikian, sumber dentuman belum dapat dipastikan secara definitif. Energi akustik dari erupsi tertentu memang dapat merambat hingga ratusan kilometer, dipengaruhi oleh kondisi atmosfer seperti temperatur dan arah angin.

Baca juga:

Fenomena serupa pernah terjadi saat erupsi Gunung Kelud pada 2014 dan saat erupsi Anak Krakatau pada April 2020, di mana suara dentuman terdengar hingga wilayah yang cukup jauh dari lokasi gunung.

Pengawasan dan Imbauan PVMBG

PVMBG terus melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk pemantauan erupsi dan perkembangan morfologi kubah lava. Hingga saat ini, belum ada laporan tentang penghentian penyeberangan feri di Selat Sunda akibat aktivitas gunung tersebut.

Baca juga:

Kepala PVMBG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan selalu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta instansi terkait. Kepatuhan terhadap rekomendasi radius aman sangat penting untuk menghindari potensi bahaya dari lontaran material erupsi.

Dengan pemantauan yang terus dilakukan dan kondisi gunung yang belum menunjukkan tanda-tanda bahaya tsunami, masyarakat dapat merasa lebih tenang namun tetap waspada terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.