Media KampungJajanan pasar tradisional di Kabupaten Jember masih menjadi favorit masyarakat meskipun makanan modern semakin marak. Berbagai jenis kudapan seperti klepon, cenil, lupis, nagasari, dan onde-onde tetap mudah dijumpai di pasar tradisional maupun pusat kuliner pagi hari, berkat cita rasa khas yang menggunakan bahan alami dan harga yang terjangkau.

Di kawasan Pasar Tanjung Jember, Siti Aminah, seorang pedagang dengan pengalaman lebih dari 15 tahun, menyatakan bahwa permintaan jajanan pasar cenderung stabil, terutama pada pagi hari. Menurutnya, pembeli yang datang biasanya ibu-ibu dan pegawai yang mencari sarapan ringan dengan rasa tradisional yang tidak terlalu manis.

Jenis jajanan yang paling diminati oleh pelanggan antara lain klepon, lapis kukus, dan putu ayu. Dalam sehari, Siti bisa menjual ratusan potong jajanan dengan harga mulai dari Rp2 ribu hingga Rp5 ribu per bungkus, menjadikannya pilihan ekonomis untuk sarapan atau camilan.

Rina Wulandari, seorang pembeli dari Kecamatan Kaliwates, mengungkapkan preferensinya terhadap jajanan pasar dibanding camilan modern. Ia menilai jajanan pasar terasa lebih alami dan mengenyangkan, serta mengandung unsur nostalgia yang mengingatkannya pada makanan masa kecil, terutama cenil dan lupis.

Dari perspektif pengamat kuliner lokal, Budi Santoso, jajanan pasar memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata kuliner daerah. Ia menekankan pentingnya promosi melalui media sosial dan inovasi kemasan agar jajanan tradisional dapat menarik minat generasi muda tanpa kehilangan cita rasa asli.

Budi berharap pemerintah daerah bersama pelaku UMKM dapat terus mendukung keberlangsungan jajanan pasar melalui berbagai program seperti festival kuliner, pelatihan usaha, dan promosi wisata kuliner lokal. Ia menegaskan bahwa jajanan pasar bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang perlu dilestarikan.

Dengan keunikan rasa dan harga yang bersahabat, jajanan pasar tradisional di Jember diprediksi akan tetap menjadi pilihan favorit masyarakat dari berbagai kalangan generasi. Keberadaan jajanan ini tidak hanya memuaskan selera, namun juga menjaga nilai budaya dan kenangan masa lalu tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.