Media Kampung, Madiun — Potensi agroekowisata di berbagai daerah, seperti komoditas kopi, durian, hingga pemandangan persawahan, kerap tidak diimbangi strategi pemasaran yang mumpuni. Akibatnya, destinasi dengan potensi tinggi kurang dikenal dan sepi pengunjung.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun, Ir. Maruf Pambudi Nurwantara, STP., M.Si., IPM., menilai kendala mendasar adalah minimnya kemampuan pemasaran kreatif. Meskipun alam menyediakan modal dasar melimpah, aspek komunikasi visual dan strategi pemasaran sering terabaikan.
“PR-nya adalah marketing. Beberapa agroekowisata perlu ekosistem pariwisata, bukan berdiri sendiri,” ujarnya dalam acara Green Radio Programa 1 RRI Madiun.
Kurangnya literasi digital di tingkat akar rumput menjadi penghambat utama branding destinasi. Banyak pelaku UMKM dan kelompok sadar wisata masih gagap teknologi sehingga kesulitan mengemas konten menarik di Instagram, TikTok, atau YouTube.
“Padahal platform digital merupakan etalase tercepat bagi wisatawan masa kini,” tegas Maruf. Ia mengakui tantangan ini juga dirasakan akademisi, di mana kreativitas mengedit video atau menentukan gaya bahasa merupakan keilmuan khusus.
Peningkatan literasi digital menjadi mendesak agar agroekowisata dapat bertransformasi menjadi identitas daerah unggul. Dengan pendampingan tepat dan adaptasi tren pemasaran digital, potensi alam yang terpendam bisa dikelola menjadi daya tarik berdaya saing tinggi.






















Tinggalkan Balasan