Media Kampung – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyatakan keprihatinannya atas skandal dugaan riset fiktif yang melibatkan warga negara Indonesia dalam konferensi ilmiah internasional di Kopenhagen, Denmark. Ia menegaskan bahwa manipulasi data dan pemalsuan identitas akademik menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) adalah tindakan tercela yang dapat merusak reputasi akademisi Indonesia di dunia internasional.

Lalu Hadrian menegaskan bahwa AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas riset, bukan untuk menghasilkan karya ilmiah palsu. Ia meminta agar pihak terkait segera melakukan investigasi menyeluruh dan menegakkan sanksi etik jika dugaan tersebut terbukti benar.

Politisi PKB ini juga mengingatkan pentingnya memperketat pengawasan dan tata kelola integritas akademik oleh pemerintah, perguruan tinggi, serta lembaga riset. Literasi etika dalam penggunaan AI di kalangan peneliti juga menjadi sorotan untuk mencegah penyalahgunaan teknologi tersebut.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tengah mengusut dugaan pelanggaran integritas akademik pada konferensi ISPPD 2026 yang melibatkan WNI. Menteri Brian Yuliarto menyatakan bahwa pihaknya berkoordinasi secara nasional untuk mendalami fakta dan keterkaitan institusi pendidikan terkait sambil memberikan kesempatan klarifikasi berdasarkan bukti akademik resmi.

Lalu Hadrian menekankan perlunya budaya akademik yang menjunjung tinggi kejujuran, tanggung jawab, dan meritokrasi agar reputasi pendidikan dan riset nasional tetap terjaga. Ia mengingatkan agar tindakan oknum tersebut tidak merusak kepercayaan internasional terhadap para akademisi dan peneliti Indonesia yang bekerja secara profesional dan jujur.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.