Media Kampung, Cianjur – Krisis air bersih akibat musim kemarau memaksa warga di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, mengeluarkan biaya tambahan hingga Rp900 ribu per bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Seorang warga, Taufik Winata (53), mengaku terpaksa membeli air galon setiap bulan karena sumur di rumahnya mengering.
“Sebesar Rp900 ribu setiap bulan hanya untuk membeli air galon guna memenuhi kebutuhan MCK dan memasak,” kata Taufik kepada kumparan, Minggu (19/7).
Kepala Desa Cimanggu, M. Rohman Budiman, membenarkan bahwa wilayahnya sudah hampir sebulan tidak diguyur hujan. Akibatnya, sejumlah warga terpaksa memanfaatkan air sungai untuk MCK. Namun, beberapa dusun seperti Kampung Cibinong masih mendapatkan pasokan dari mata air Leuweung Hideung melalui pipanisasi sederhana.
Rohman memperkirakan krisis akan meluas dalam sepekan ke depan jika hujan tak kunjung turun. Pihak desa berencana mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih ke pemerintah daerah. Sebelumnya, BPBD Cianjur mencatat 14 kecamatan terdampak krisis air bersih, termasuk Ciranjang, Cibeber, Cibinong, Sukaluyu, Gekbrong, Campakamulya, Kadupandak, Agrabinta, dan Cugenang.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Biaya tambahan untuk air bersih memberatkan warga, terutama yang berpenghasilan harian. Taufik dan keluarganya memutuskan pindah sementara ke Cisalak Hilir untuk mendapatkan akses air bersih dari mata air di belakang rumah.
Kondisi geografis Cibeber yang berbukit membuat sumur bor harus sangat dalam, sehingga biaya pembuatannya mahal. “Setiap kemarau panjang, daerah ini memang selalu kesulitan air bersih. Sungainya ada di bawah, sementara permukiman di atas,” ujar Taufik.
Upaya Penanggulangan
BPBD Cianjur telah memetakan wilayah rawan kekeringan dan menyiagakan bantuan air bersih. Masyarakat diimbau untuk menghemat air dan melaporkan kesulitan ke perangkat desa setempat.
Sumber: kumparan.com (19 Juli 2026)














Tinggalkan Balasan