Media Kampung – Proses pencarian korban ledakan bom peninggalan Perang Dunia II di Kompleks Perikanan, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, terus berlanjut. Hingga hari ketiga pasca-kejadian, tim SAR gabungan berhasil menemukan lima potongan serpihan tubuh di wilayah perairan, sementara tiga orang masih dinyatakan hilang.
Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, mengungkapkan bahwa temuan tersebut diperoleh saat tim menyisir area Ring 2. “Basarnas bersama tim gabungan menyisir di Ring 2 dan menemukan kembali lima potongan serpihan bagian tubuh,” ujarnya, Selasa (26/5/2026) malam. Seluruh serpihan telah dievakuasi untuk proses identifikasi lebih lanjut oleh tim DVI medis.
Skala prioritas pencarian kini dialihkan ke wilayah luar titik nol ledakan karena parahnya kerusakan infrastruktur di pesisir pantai. “Untuk korban yang dinyatakan hilang, saat ini masih dalam status tiga orang. Kami akan melakukan pencarian intensif dengan fokus di Ring 2, yaitu wilayah pantai dan perairan,” tambah Kapolres.
Data manifes korban luka mencatat 18 orang mengalami luka-luka, dengan rincian dua orang menjalani rawat inap dan 16 orang rawat jalan. Saat ini, RSUD Biak masih merawat satu pasien rawat inap yang kondisinya terus dipantau. Sementara 16 korban luka ringan telah diperbolehkan pulang namun tetap dalam pengawasan medis berkala.
Area Ring 1 atau pusat ledakan masih ditutup total bagi warga sipil. Tim Penjinak Bom (Jibom) Gegana Polda Papua menegaskan kawasan tersebut belum steril dan menyimpan risiko sekunder tinggi. Dalam operasi pembersihan, Tim Jibom berhasil mendeteksi dan mengamankan sejumlah bahan peledak militer aktif lainnya yang tertimbun di sekitar lokasi. Berikut rincian materiil berbahaya yang ditangani:
- Dua buah proyektil militer berukuran besar berhasil diamankan; amunisi di dalamnya dikeluarkan secara aman menggunakan metode pemotongan khusus.
- Dua buah granat nanas aktif ditemukan, satu di antaranya telah berhasil diledakkan/dimusnahkan (disposal).
- Satu buah granat jenis manggis aktif ditemukan dan langsung dilakukan pemusnahan total pada hari yang sama.
Pihak berwajib menegaskan Ring 1 belum dapat dibuka karena masih banyak benda serupa yang tertimbun tanah atau struktur bangunan yang hancur. Langkah ini diambil demi melindungi keselamatan masyarakat dan tim evakuasi.
AKBP Ari Trestiawan mengeluarkan maklumat kepada warga Biak Numfor, khususnya yang tinggal di kawasan pesisir dan bekas pertempuran Perang Dunia II. Karakteristik bom sisa perang yang tidak stabil membuat benda-benda tersebut laksana bom waktu yang siap meledak jika terkena benturan atau panas. “Kami mengimbau masyarakat agar menjauhi area Ring 1. Tempat itu belum aman. Jika ada warga yang mengetahui, melihat, atau menyimpan barang yang diduga amunisi, bom, atau bahan peledak sisa perang, segera lapor kepada aparat keamanan,” tegasnya. Polres Biak Numfor mengingatkan bahwa tindakan menyembunyikan atau mencoba membongkar sendiri benda mencurigakan merupakan tindakan fatal yang mengancam nyawa.
Sebelumnya, jumlah korban meninggal akibat ledakan bom peninggalan Perang Dunia II di lokasi tersebut bertambah menjadi enam orang. Korban terbaru, Mina Puadi (51), meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Biak pada Selasa (2/6/2026) dini hari. Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, menyampaikan duka cita mendalam atas bertambahnya korban meninggal dalam peristiwa tersebut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




