Media Kampung, Banten – Ngagurah Dano merupakan tradisi tahunan yang digelar di aliran Sungai Cidanau, Desa Cikolelet, Banten, saat musim kemarau. Tradisi ini melibatkan warga yang bersama-sama menangkap ikan menggunakan tangan kosong dan alat tangkap tradisional sebagai bentuk ungkapan syukur kepada alam.

Makna dan Tujuan Tradisi Ngagurah Dano

Ngagurah Dano tidak hanya menjadi ajang menangkap ikan secara massal, tetapi juga merupakan bentuk rasa syukur warga atas kelestarian alam dan melimpahnya air di Sungai Cidanau. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pelestarian kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca juga:

Pelaksanaan Tradisi di Sungai Cidanau

Tradisi ini biasanya diselenggarakan saat musim kemarau, ketika debit air sungai lebih rendah, memudahkan proses menangkap ikan secara tradisional. Warga datang beramai-ramai menggunakan tangan kosong dan alat tangkap sederhana untuk menangkap ikan di aliran sungai. Keseruan dan kebersamaan dalam kegiatan ini juga menarik perhatian wisatawan yang ingin menyaksikan dan merasakan pengalaman budaya lokal.

Peran Tradisi dalam Pelestarian Budaya dan Lingkungan

Selain sebagai pesta rakyat, Ngagurah Dano berperan penting dalam menjaga kearifan lokal dan mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Tradisi ini menjadi contoh bagaimana budaya dan alam saling terkait dalam kehidupan masyarakat Banten.

Baca juga:

Dengan menjaga tradisi seperti Ngagurah Dano, komunitas lokal turut berkontribusi dalam mempertahankan identitas budaya sekaligus mempromosikan pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan.

Ngagurah Dano di Sungai Cidanau menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih hidup dan dapat menjadi sarana edukasi serta hiburan yang kaya nilai bagi masyarakat dan pengunjung.

Baca juga: