Media Kampung, Palembang – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menegaskan komitmennya dalam menghadirkan layanan pendidikan keagamaan yang aman, ramah, dan berpihak pada masa depan anak. Penegasan ini disampaikan Kepala Kanwil Kemenag Sumsel, Syafitri Irwan, pada Kamis, 23 Juli 2026, bertepatan dengan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Syafitri mengatakan, momentum HAN 2026 dan HUT ke-81 RI menjadi pembuktian nyata atas berbagai perubahan positif di lapangan. Melalui program transformatif di madrasah, pondok pesantren, dan sekolah keagamaan, Kemenag Sumsel memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan berkualitas serta perlindungan yang layak.
Lingkungan Belajar Bebas Kekerasan
Upaya nyata diawali dengan mendorong lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan, perundungan (bullying), dan diskriminasi. Langkah ini diwujudkan melalui pembentukan dan pengaktifan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di madrasah dan pondok pesantren. Sosialisasi Satuan Pendidikan Ramah Anak (SRA) juga digelar secara berkesinambungan dengan melibatkan pengasuh pesantren, kepala madrasah, dan tenaga pendidik agar suasana belajar berlangsung tenang dan penuh kehangatan.
Fasilitas Inklusif dan Modern
Kemenag Sumsel juga memprioritaskan kesetaraan hak belajar melalui penyediaan fasilitas inklusif dan pembangunan sarana modern. Infrastruktur ramah bagi peserta didik berkebutuhan khusus (disabilitas) terus disiapkan, seperti rampa jalan akses, fasilitas sanitasi khusus, hingga metode pembelajaran adaptif. Revitalisasi dan pembangunan gedung madrasah dilakukan secara berkelanjutan untuk menjamin ketersediaan ruang kelas yang representatif, sehat, dan kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Digitalisasi dan Pembentukan Karakter
Komitmen ini diperkuat dengan peningkatan mutu dan digitalisasi pembelajaran. Kemenag Sumsel mendorong integrasi Digital Madrasah melalui penyediaan laboratorium komputer, papan interaktif, dan perpustakaan digital. Pemanfaatan teknologi informasi tetap diimbangi dengan pembentukan karakter mulia (akhlakul karimah) serta pemutakhiran pemahaman moderasi beragama sejak dini. “Seluruh capaian dan aksi nyata ini bermuara pada satu semangat utama, yaitu Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan,” pungkas Syafitri.













