Media Kampung – Pemerintah Kota Gunungsitoli melalui Dinas P5A bersama Ikatan Bidan Indonesia (IBI) terus menggencarkan edukasi untuk membangun image positif masyarakat tentang penggunaan alat KB. Upaya ini bertujuan mengubah mindset bahwa KB bukan sekadar pembatasan anak, melainkan perencanaan keluarga demi masa depan yang sehat dan sejahtera.

Oktavia Harefa, SKM, Kepala Bidang KB dan K3 Dinas P5A Kota Gunungsitoli, menyatakan bahwa informasi tentang KB seringkali simpang siur di masyarakat. Banyak yang mengeluhkan ketidakcocokan alat kontrasepsi, namun hal itu bisa diatasi dengan konsultasi ke dokter spesialis obgyn.

“Kami sarankan untuk melakukan pemeriksaan secara keseluruhan ke dokter spesialis obgyn. Banyak faktor yang memengaruhi kecocokan, seperti riwayat pekerjaan dan asupan gizi. Masyarakat bisa berkonsultasi di puskesmas terdekat secara gratis,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).

Yurniwati Harefa, Ketua IBI Kota Gunungsitoli, menambahkan bahwa bidan berperan sebagai konselor utama untuk menepis hoaks dan mitos seputar KB. Sebelum memilih alat kontrasepsi, masyarakat diedukasi tentang metode yang tersedia, termasuk perbedaan kontrasepsi hormonal dan non-hormonal.

“Penderita tiroid misalnya, tidak cocok menggunakan KB hormonal tapi bisa menggunakan non-hormonal. Meskipun semua alat kontrasepsi memiliki efek samping, petugas akan memberikan edukasi terbaik. Masyarakat tetap yang menentukan pilihan alat yang cocok,” jelas Yurniwati.

Kerja sama antara UPTD P5A dan kader kesehatan dinilai krusial dalam membangun citra positif KB. Langkah ini diharapkan mampu mengikis mitos negatif, menekan angka kehamilan tidak direncanakan, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Sejauh ini, peran Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) sudah maksimal. Belum ada laporan efek samping serius dari penggunaan alat kontrasepsi di Gunungsitoli.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.