Media Kampung – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat khususnya anak muda agar menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup dalam memperingati Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei. Peringatan ini juga bertepatan dengan ulang tahun ke-46 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang menandai pentingnya literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa.
Khofifah menekankan bahwa budaya membaca harus ditanamkan sejak dini agar generasi mendatang dapat tumbuh menjadi sosok yang cerdas, kritis, dan berkarakter. Ia menyebutkan bahwa Hari Buku Nasional memiliki kaitan erat dengan sejarah berdirinya Perpustakaan Nasional pada 1980. Momen ini menjadi pengingat untuk terus menguatkan peran buku dan perpustakaan dalam membangun pengetahuan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyoroti perlunya kolaborasi antara keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, dan elemen masyarakat lainnya untuk membangun budaya literasi yang luas. “Penguatan literasi adalah kerja bersama. Harus ada sinergi dari rumah, sekolah, hingga lingkungan sosial, agar budaya membaca benar-benar tumbuh,” ujarnya di Surabaya.
Selain itu, Gubernur Jawa Timur ini mengajak agar literasi berkembang mengikuti kemajuan teknologi dengan memanfaatkan buku elektronik dan buku audio. Ia mengingatkan bahwa kemampuan literasi masa kini tidak hanya sebatas membaca, tetapi juga memahami, menganalisis, serta memilah informasi secara bijak untuk melindungi masyarakat dari hoaks dan disinformasi.
Khofifah juga menegaskan pentingnya pendekatan kreatif dan menyenangkan dalam pembinaan literasi, khususnya bagi anak-anak agar mereka mencintai buku tanpa tergantung pada gadget. Ia mendorong pembinaan literasi berbasis komunitas melalui desa dan kelurahan, dengan mengadakan lomba serta kegiatan kreatif guna meningkatkan minat baca masyarakat.
Melalui momentum Hari Buku Nasional 2026, Khofifah mengajak semua pihak untuk menyisihkan waktu setiap hari guna membaca. Ia berpesan, “Mari kita sisihkan waktu setiap hari untuk membaca. Karena dengan membaca, kita bisa menjelajahi dunia tanpa harus ke mana-mana.” Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa membaca adalah kunci memperluas wawasan dan pengetahuan yang dapat diakses oleh siapa saja.
Sejarah Hari Buku Nasional sendiri bermula dari penetapan tanggal 17 Mei sebagai hari peringatan yang bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional pada 1980. Penetapan hari tersebut dimulai pada 2002 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Abdul Malik Fadjar, sebagai upaya meningkatkan minat baca dan budaya literasi di Indonesia yang masih rendah meskipun tingkat melek huruf sudah mencapai 96 persen.
Data UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, hanya sekitar 0,001 persen dari total penduduk. Hal ini menjadi tantangan besar dalam membangun budaya literasi yang kuat di tanah air.
Seiring perkembangan zaman, berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan budaya membaca, termasuk penggunaan teknologi seperti e-book dan audiobook yang mulai diperkenalkan. Namun demikian, upaya tersebut harus didukung oleh sinergi semua pihak agar budaya literasi bisa tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




