Media Kampung – Banyak orang masih menganggap bahwa anak SD belum menghadapi masalah serius dan baru akan mulai mengalami tantangan emosional saat masuk SMP. Anggapan ini menyebabkan kebutuhan akan konseling anak SD sering diabaikan padahal fase ini sangat penting dalam pembentukan konsep diri dan sosial anak.
Anak usia 7 sampai 12 tahun tengah melewati masa perkembangan yang sangat krusial. Pada usia ini, mereka mulai memahami siapa diri mereka, bagaimana diterima oleh lingkungan, dan menghadapi tekanan akademik seperti tugas rumah, ujian, serta persaingan peringkat kelas. Namun, tidak semua anak dapat melewati masa ini dengan mulus.
Data menunjukkan bahwa sekitar 26% korban bullying di Indonesia berasal dari jenjang SD, angka tertinggi dibanding jenjang lainnya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan 61 kasus perundungan sepanjang tahun 2025, yang diyakini hanya sebagian kecil dari kasus nyata karena banyak yang tidak dilaporkan. Dampak bullying pada anak SD sangat serius, meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan penurunan harga diri yang berpotensi berlanjut hingga dewasa.
Selain bullying, ada juga anak yang menghadapi masalah seperti perceraian orang tua, kesulitan belajar, isolasi sosial, dan kekerasan di rumah yang tidak terungkap. Anak-anak pada usia ini sering kesulitan mengungkapkan kegelisahan mereka secara verbal sehingga mengekspresikannya melalui perubahan perilaku seperti malas sekolah, sakit tanpa sebab medis, agresivitas, atau menjadi pendiam. Tanda-tanda ini sering terlewat tanpa pengamatan yang cermat.
Fokus berlebihan pada nilai akademik juga menjadi kendala. Sekolah dan orang tua sering menilai keberhasilan anak hanya dari rapor, tanpa memperhatikan kesehatan mentalnya. Banyak anak yang berprestasi namun menyimpan kecemasan atau masalah emosional yang serius, sementara anak dengan nilai biasa mungkin membutuhkan perhatian ekstra.
Stigma yang melekat pada konseling juga menjadi penghambat. Masih banyak yang menganggap layanan bimbingan dan konseling (BK) sebagai tanda anak bermasalah atau nakal. Padahal, konseling adalah layanan yang seharusnya tersedia untuk semua anak agar mendapatkan dukungan yang mereka perlukan sejak dini.
Guru kelas di SD memiliki peran penting karena mereka paling sering berinteraksi dengan siswa dan bisa menjadi orang dewasa yang paling dipercaya oleh anak. Meskipun bukan psikolog, guru perlu memiliki sensitivitas dan keterampilan dasar untuk mengenali tanda-tanda masalah dan menghubungkan anak dengan bantuan profesional.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111 Tahun 2014 menegaskan bahwa layanan BK wajib tersedia sejak jenjang pendidikan dasar. Namun, realitas di lapangan menunjukkan banyak sekolah dasar, terutama di daerah terpencil, belum memiliki konselor profesional. Selain itu, anggaran untuk layanan ini seringkali dipangkas dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental anak masih belum merata di kalangan pendidik maupun orang tua.
Investasi dalam kesehatan emosional anak sejak dini merupakan langkah yang sangat efisien. Menangani masalah sejak awal dapat mencegah terjadinya krisis yang lebih besar dan lebih rumit di kemudian hari. Oleh karena itu, perhatian terhadap konseling anak SD harus menjadi prioritas agar mereka dapat tumbuh dengan sehat secara emosional dan sosial.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan