Media Kampung – Kementerian Sosial (Kemensos) menegaskan tidak membuka pendaftaran formal untuk Sekolah Rakyat, melainkan menggunakan basis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) guna menjangkau keluarga paling tidak mampu.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf pada konferensi pers di Bandar Lampung, Minggu 26 April 2026.

DTSEN menjadi satu-satunya mekanisme identifikasi, sehingga proses rekrutmen siswa bersifat proaktif dan berbasis data.

Tim lapangan Kemensos melakukan penjangkauan di daerah rawan kemiskinan, mencatat nama anak yang belum terdaftar namun memenuhi kriteria.

“Kami tidak membuka pendaftaran umum. Semua penjangkauan dilakukan melalui DTSEN untuk memastikan tepat sasaran,” ujar Saifullah Yusuf.

Jika data DTSEN menunjukkan keberadaan anak usia sekolah yang masih bekerja atau mengembara, tim akan menghubungi orang tua untuk mengajak berdiskusi.

Setelah mendapatkan persetujuan orang tua, Kemensos memberikan sosialisasi lengkap mengenai mekanisme Sekolah Rakyat.

Program tidak hanya fokus pada pendidikan anak, melainkan juga mencakup pemberdayaan ekonomi bagi keluarga.

Orang tua peserta diberikan akses ke program bantuan sosial, jaminan kesehatan, serta pelatihan dalam Koperasi Desa Merah Putih.

Saifullah Yusuf menambahkan, “Sekolah Rakyat berkontribusi pada pengentasan kemiskinan dengan memberdayakan seluruh anggota keluarga.”

Penekanan pada pemberdayaan ini diharapkan menciptakan keluarga mandiri setelah anak lulus.

Menurut data internal Kemensos, sekitar 75 persen siswa Sekolah Rakyat memiliki aspirasi melanjutkan ke perguruan tinggi.

Angka tersebut menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan fase awal program.

Selama dua bulan pertama pelaksanaan, tim mengakui tantangan operasional yang cukup berat.

Namun, Menteri menyatakan bahwa kondisi kini telah membaik secara substansial.

Guru-guru yang ditugaskan di Sekolah Rakyat kini melaporkan rasa betah dalam proses belajar mengajar.

Keberlangsungan program dipandang lebih stabil berkat dukungan infrastruktur dan pelatihan guru.

Selain penjangkauan berbasis data, Kemensos juga melakukan asistensi langsung di tempat-tempat strategis.

Misalnya, di pasar tradisional dan kawasan pemukiman kumuh, tim menelusuri anak-anak yang belum bersekolah.

Setiap temuan dicatat dalam sistem DTSEN, kemudian diproses untuk penempatan ke Sekolah Rakyat terdekat.

Pendekatan ini mengurangi potensi kesenjangan data antara realitas lapangan dan basis data nasional.

Program Sekolah Rakyat dikelola secara terpusat oleh Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Kemensos.

Koordinasi dengan Dinas Pendidikan daerah memastikan kurikulum sesuai standar nasional.

Fasilitas belajar meliputi ruang kelas, perpustakaan mini, serta akses internet gratis.

Setiap siswa juga mendapatkan paket perlengkapan belajar, seragam, dan bantuan transportasi bila diperlukan.

Kemensos menargetkan penambahan 10.000 siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027 melalui metode DTSEN.

Target tersebut sejalan dengan program nasional Pengentasan Kemiskinan Terpadu.

Selain aspek pendidikan, program menyediakan pelatihan keterampilan bagi orang tua, seperti menjahit, pertanian organik, dan digital marketing.

Pelatihan ini diharapkan meningkatkan pendapatan rumah tangga secara berkelanjutan.

Saifullah Yusuf menegaskan, “Kami tidak hanya memberi bantuan satu kali, melainkan menciptakan ekosistem yang mendukung kemandirian.”

Selama periode evaluasi tengah tahun, indikator kepuasan orang tua mencapai 82 persen.

Indikator tersebut mencakup aspek kualitas pengajaran, akses layanan sosial, dan keterlibatan komunitas.

Keberhasilan program juga didukung oleh partisipasi aktif Lembaga Swadaya Masyarakat lokal.

LSM membantu dalam sosialisasi, monitoring, serta pendampingan kegiatan ekonomi berbasis komunitas.

Dengan sinergi pemerintah dan LSM, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi model replikasi di provinsi lain.

Hingga kini, tidak ada laporan penolakan signifikan dari masyarakat terkait metode penjangkauan berbasis DTSEN.

Kemensos berkomitmen terus menyempurnakan data dan prosedur untuk mengoptimalkan jangkauan program.

Berita terbaru menegaskan bahwa proses rekrutmen melalui DTSEN kini berjalan lancar, dengan peningkatan jumlah peserta dibandingkan triwulan sebelumnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.