Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami tekanan tajam yang dipicu oleh krisis kepercayaan investor terhadap pemerintah, berdampak pula pada pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius di pasar keuangan domestik.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, menilai bahwa respons terkoordinasi dari berbagai otoritas diperlukan untuk memulihkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar. Menurut Nafan, Bank Indonesia (BI) harus melakukan intervensi lebih agresif di pasar valuta asing dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk mempertahankan kestabilan rupiah.

Selain itu, pemerintah didorong untuk memperkuat kebijakan insentif devisa hasil ekspor guna meningkatkan suplai devisa di dalam negeri. Pihak Danantara juga perlu memberikan klarifikasi mengenai kebijakan operasional dan isu sektoral yang berkembang agar dapat meredam ketidakpastian di pasar. Kementerian BUMN bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disarankan mengoptimalkan peran pembeli siaga dan menjalankan program buyback saham BUMN guna menjaga likuiditas dan kepercayaan investor.

Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan mengimplementasikan mekanisme auto rejection secara terukur untuk menjaga keteraturan perdagangan dan mengantisipasi volatilitas pasar yang berlebihan. Secara teknikal, IHSG memang berada dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI), meskipun tren penurunan masih berlangsung. Volume transaksi mulai menguat meski sinyal Stochastics K-D masih negatif.

Tekanan pasar juga diperparah oleh aksi jual investor asing yang berlanjut dengan nilai net sell mencapai sekitar Rp864 miliar pada perdagangan 3 Juni 2026. Sentimen negatif turut dipengaruhi oleh outlook negatif dari lembaga pemeringkat Moody’s terhadap Danantara Investment Management dengan potensi penurunan rating jika risiko tidak membaik.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, mengungkapkan empat faktor utama yang menyebabkan koreksi tajam IHSG. Pertama, risiko fiskal akibat lonjakan harga minyak global yang dipicu konflik AS-Iran, yang berdampak pada Indonesia sebagai net importir minyak. Kedua, ketidakpastian kebijakan pemerintah, terutama terkait perubahan royalti tambang dan wacana kebijakan ekspor satu pintu. Ketiga, outlook negatif terhadap utang pemerintah dari Moody’s dan Fitch Rating. Keempat, penghapusan enam saham berkapitalisasi besar Indonesia dari indeks MSCI yang menyebabkan arus keluar modal asing.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyoroti bahwa kombinasi pelemahan IHSG dan depresiasi rupiah menandakan investor melakukan repricing risiko terhadap Indonesia. Meskipun pemerintah menyatakan fundamental ekonomi tetap kuat, tekanan nyata terhadap aset keuangan domestik menunjukkan kepercayaan investor menurun drastis.

Hendra menegaskan bahwa persoalan utama bukan hanya pertumbuhan ekonomi, melainkan kredibilitas kebijakan. Investor membutuhkan kepastian arah fiskal, regulasi yang jelas, serta iklim investasi yang sehat. Kebijakan fiskal yang konsisten dan transparan menjadi kunci membangun kembali kepercayaan pasar.

Dalam konteks ini, pemerintah diminta untuk fokus pada langkah konkret menjaga disiplin fiskal dan menyesuaikan program strategis agar lebih tepat sasaran tanpa membebani ruang fiskal. Bantuan sosial perlu difokuskan pada kelompok yang benar-benar membutuhkan agar efektif dan tidak menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan APBN.

Kondisi IHSG yang melemah hingga di bawah level psikologis 6.000 dan rupiah yang melemah signifikan menjadi sinyal serius krisis kepercayaan pasar domestik. Tekanan pasar lebih banyak berasal dari faktor internal, terutama ketidakpastian kebijakan, dibanding sentimen eksternal. Oleh karena itu, sinergi antar lembaga dan kebijakan yang transparan sangat penting untuk memulihkan stabilitas pasar keuangan Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.