Media Kampung – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi memberlakukan bahan bakar Biosolar B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari program B35 dan B40 yang sebelumnya telah berjalan. Bagi pemilik kendaraan diesel, memahami arti B50 dan dampaknya terhadap mesin menjadi sangat penting agar dapat beradaptasi dengan tepat.
Apa Itu Biosolar B50?
Nama Biosolar B50 berasal dari tiga unsur: ‘Bio’ yang menandakan kandungan nabati, ‘Solar’ yang merujuk pada petrodiesel dari minyak bumi, dan ‘B50’ yang berarti campuran 50% bahan nabati dan 50% solar murni. Bahan nabati yang digunakan adalah minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang diolah menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Dengan demikian, dalam setiap liter B50, setengahnya merupakan minyak sawit hasil bumi dan setengahnya lagi minyak fosil. Indonesia menjadi negara dengan porsi campuran bahan bakar nabati tertinggi di dunia.
Hasil Uji Teknis dan Efek pada Mesin
Sebelum diterapkan secara komersial, Kementerian ESDM bersama pihak terkait melakukan uji jalan dan uji teknis sejak Desember 2025. Pengujian mencakup enam sektor: otomotif, pertambangan, kereta api, perkapalan, alat pertanian, dan pembangkit listrik. Hasilnya menunjukkan bahwa B50 aman digunakan pada mesin diesel modern maupun alat berat. Namun, terdapat beberapa penyesuaian yang perlu diperhatikan:
- Sifat Detergensi: FAME memiliki kemampuan melarutkan kotoran atau endapan di tangki bahan bakar. Pada kendaraan lama yang baru beralih ke B50, kotoran yang terlepas dapat menyumbat filter bahan bakar lebih cepat pada awal pemakaian.
- Konsumsi Bahan Bakar: Nilai kalor biodiesel sedikit lebih rendah dibanding solar murni. Data uji coba pada alat berat mencatat kenaikan konsumsi sekitar 3,12%, namun masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu produktivitas mesin secara signifikan.
Tips Perawatan untuk Pemilik Kendaraan Diesel
Menyambut implementasi B50, pemerintah mengimbau pemilik kendaraan dan pengusaha armada untuk meningkatkan perawatan berkala. Berikut langkah yang disarankan:
- Periksa kondisi filter solar secara rutin, terutama pada fase awal transisi.
- Bersihkan tangki penyimpanan bahan bakar untuk mengurangi risiko kotoran yang terlepas.
- Pantau performa mesin dan konsumsi bahan bakar untuk mendeteksi perubahan sejak dini.
Dengan persiapan yang tepat, penggunaan Biosolar B50 diharapkan dapat berjalan lancar dan mendukung ketahanan energi nasional tanpa mengorbankan performa kendaraan diesel.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan