Megabintang sepak bola Lionel Messi menuliskan sejarah kepahlawanan yang penuh drama bersama tim nasional Argentina selama lebih dari dua dekade karier internasionalnya. Perjalanan panjang sang kapten tidak berjalan mulus karena ia harus melewati berbagai kegagalan tragis sebelum akhirnya mencapai puncak kejayaan tertinggi. Publik sempat meragukan komitmen sang pemain akibat rentetan hasil buruk pada partai final krusial. Namun, keteguhan hati membawa penyerang legendaris tersebut mengubah tangisan kepedihan menjadi air mata kebahagiaan yang abadi.

Kepedihan Awal dan Kartu Merah Debut

Debut internasional sang pemain bersama tim tango pada tahun 2005 langsung berubah menjadi mimpi buruk. Wasit mengusir Messi keluar lapangan hanya beberapa menit setelah ia masuk sebagai pemain pengganti melawan Hungaria. Pemain muda berbakat tersebut meninggalkan lapangan hijau sambil menangis tersedu-sedu di ruang ganti. Setahun setelah debut kelam itu, ia harus menerima kenyataan pahit pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Langkah Argentina terhenti pada babak perempat final setelah kalah adu penalti dari tim tuan rumah. Sang bintang muda hanya bisa duduk terdiam di bangku cadangan sepanjang babak perpanjangan waktu tanpa kesempatan bermain.

Badai Kritik dan Keputusan Pensiun Dini

Kritik tajam terus menghujani sang kapten setelah Argentina kalah telak dari Jerman pada Piala Dunia 2010. Beban berat semakin bertambah karena publik selalu membandingkan dirinya dengan sang pelatih kala itu, Diego Maradona. Kekecewaan pendukung semakin memuncak saat Argentina tersingkir dari Copa America 2011 di kandang sendiri. Puncak keputusasaan sang megabintang terjadi pada final Copa America Centenario tahun 2016 melawan Cile. Kegagalan mengeksekusi penalti pada laga puncak membuat Argentina kembali kehilangan trofi juara. Dalam kepedihan yang mendalam, ia mengumumkan keputusan pensiun dari tim nasional. Ia meluapkan keputusasaannya dengan pernyataan singkat di depan awak media. “Ini sudah berakhir,” tutur sang penyerang setelah memutuskan gantung sepatu dari kancah internasional.

Era Keemasan Scaloni dan Akhir Legendaris

Kehadiran pelatih Lionel Scaloni akhirnya menjadi titik balik terpenting dalam karier internasional sang kapten. Scaloni membangun skuad tangguh yang siap bertarung habis-habisan demi membantu sang megabintang di lapangan. Hasilnya langsung terlihat nyata saat Argentina sukses membungkam Brasil pada final Copa America 2021 di Stadion Maracana. Kejayaan armada Scaloni semakin tidak terbendung pada turnamen akbar Piala Dunia 2022 di Qatar. Messi berhasil mengangkat trofi emas yang selama ini ia impikan setelah mengalahkan Prancis dalam laga final paling dramatis sepanjang sejarah. Ia melengkapi warisan emasnya dengan meraih gelar Copa America tambahan dan memainkan laga pamungkas melawan Spanyol pada usia tiga puluh sembilan tahun.