Media Kampung – Petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, harus mengakhiri perjuangannya di Roland Garros 2026 pada babak perempat final setelah kalah dari unggulan ke-25, Diana Shnaider, dengan skor 3-6, 7-5, 0-6. Pertandingan berlangsung di Lapangan Philippe-Chatrier, Paris, Rabu malam WIB, di tengah kondisi angin kencang yang mempengaruhi jalannya laga.

Sabalenka, yang sebelumnya menorehkan rekor enam semifinal Grand Slam berturut-turut, gagal melanjutkan tren positifnya setelah Shnaider berhasil menguasai pertandingan dengan permainan agresif dan konsisten. Pada set penentu, Sabalenka kehilangan kendali dan melakukan 57 kesalahan sendiri, termasuk 17 kesalahan pada gim terakhir, sehingga harus menyerah dengan skor 0-6, hasil yang pertama kalinya dialaminya sejak Dubai 2024.

Diana Shnaider, yang baru berusia 22 tahun dan tampil untuk pertama kalinya di babak perempat final Grand Slam, mengaku gugup saat menghadapi Sabalenka. Namun, ia berhasil menyesuaikan diri dengan kondisi angin dan mengeluarkan permainan terbaiknya untuk merebut kemenangan penting tersebut. “Ini perempat final Grand Slam pertama saya dan melawan pemain nomor satu dunia tentu sangat menegangkan,” ujar Shnaider usai pertandingan.

Performa Shnaider sangat impresif, terutama saat berhasil memenangi 12 dari 13 gim terakhir pertandingan dan memenangkan 10 gim berturut-turut dari kedudukan 5-3 di set ketiga. Sebelumnya, dia juga mencatat kemenangan set ketiga 6-0 pada babak keempat melawan Madison Keys.

Kemenangan ini membuat susunan semifinal Roland Garros 2026 di nomor tunggal putri unik karena seluruh pemain yang lolos lahir setelah tahun 2000 dan belum pernah menjuarai Grand Slam. Shnaider akan menghadapi Maja Chwalinska dari Polandia di babak semifinal. Sementara itu, pertandingan semifinal lainnya mempertemukan Marta Kostyuk dari Ukraina melawan Mirra Andreeva dari Rusia.

Sabalenka sendiri sebelumnya menunjukkan performa kuat di turnamen ini, termasuk kemenangan atas Naomi Osaka di babak keempat dengan skor 7-5, 6-3. Namun, pada perempat final, kondisi pertandingan yang sulit dan tekanan membuatnya tidak mampu mempertahankan dominasi di lapangan tanah liat Paris kali ini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.