Media Kampung – Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar yen telah berdampak pada perdagangan dengan Amerika Serikat. Hal ini disampaikan dalam pertemuannya dengan Presiden AS, Donald Trump, di New York bulan lalu. Takaichi menyatakan bahwa “sebagai aturan umum, yen yang dinilai terlalu rendah merupakan masalah” bagi perdagangan.
Dalam wawancara eksklusif dengan stasiun televisi NTV, Takaichi menjelaskan lebih lanjut tentang kekhawatiran yang diungkapkan oleh Trump mengenai nilai yen yang lemah. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, juga menegaskan bahwa Trump telah menyampaikan keprihatinannya dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung baru-baru ini.
Pemerintahan Trump sebelumnya telah secara vokal menyatakan kekhawatiran mengenai nilai tukar yen yang melemah. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mendorong Bank Sentral Jepang (BoJ) untuk menaikkan suku bunga sebagai langkah untuk memulihkan nilai yen, menekankan pentingnya fokus Jepang pada pengendalian inflasi dibandingkan hanya sekadar mendorong pertumbuhan ekonomi.
Takaichi juga menegaskan komitmennya untuk mengejar perekonomian yang kuat dan keuangan pemerintah yang berkelanjutan. “Kami berupaya meningkatkan tingkat pertumbuhan potensial Jepang dan memperkuat kapasitas pasokan melalui investasi besar-besaran dalam manajemen risiko dan pertumbuhan,” tambahnya.
Sebelumnya, Jepang dan AS melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing setelah yen diperdagangkan di level 164 yen per dolar AS. Ini merupakan tindakan bersama pertama kedua negara untuk menopang nilai tukar yen dalam 28 tahun terakhir. Takaichi juga menyatakan bahwa fokusnya adalah pada kebijakan yang dapat mendukung nilai yen sambil menghidupkan kembali perekonomian Jepang.














