Media Kampung – Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada September 2026 mencatatkan rekor tertinggi sebesar 131,11, menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 129,19. Data ini dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan mengindikasikan daya beli petani yang semakin membaik.
Kenaikan NTP ini terutama dipicu oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,93 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,44 persen. Dengan kata lain, harga hasil produksi petani naik lebih cepat daripada biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga mereka.
Komoditas Utama Penggerak Kenaikan NTP
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa sejumlah komoditas menjadi pendorong utama kenaikan NTP pada bulan ini. Komoditas tersebut antara lain gabah, karet, cabai rawit, dan kelapa sawit.
“Komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani yaitu gabah, karet, cabai rawit, dan juga kelapa sawit,” ujar Ateng dalam konferensi pers BPS pada 1 Oktober 2026.
Kenaikan Berdasarkan Subsektor Pertanian
Seluruh subsektor utama pertanian mengalami kenaikan NTP pada September 2026. Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura yang mencapai 4,04 persen. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani hortikultura sebesar 4,34 persen, sementara indeks harga yang dibayar hanya naik 0,30 persen.
Komoditas hortikultura yang paling berkontribusi terhadap kenaikan harga adalah cabai rawit, cabai merah, dan tomat.
Data NTP Per Subsektor
- Tanaman pangan: 119,24
- Tanaman hortikultura: 129,50
- Tanaman perkebunan rakyat: 171,67
- Peternakan: 102,91
Kenaikan Kumulatif Januari-September 2026
Secara kumulatif dari Januari hingga September 2026, NTP nasional tercatat sebesar 127,03 atau meningkat 3,44 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025. Subsektor tanaman hortikultura mencatat kenaikan kumulatif terbesar sebesar 6,60 persen.
Makna Kenaikan Nilai Tukar Petani
Kenaikan NTP menunjukkan bahwa harga hasil produksi petani meningkat lebih tinggi dibandingkan harga yang harus dibayar untuk kebutuhan produksi dan konsumsi rumah tangga. Hal ini menjadi indikator positif perkembangan daya beli petani, yang berimplikasi pada kesejahteraan petani dan stabilitas ekonomi di sektor pertanian.
Peningkatan ini juga mencerminkan keberhasilan beberapa komoditas strategis dalam meningkatkan pendapatan petani, sekaligus memberikan gambaran optimisme terhadap kondisi pertanian nasional di tengah berbagai tantangan ekonomi.












Tinggalkan Balasan